Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Ngargoyoso Rawan Kekurangan Yodium

15 Oktober 2019, 13: 12: 54 WIB | editor : Perdana

Ngargoyoso Rawan Kekurangan Yodium

SOLO – Kekurangan yodium sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan. Terutama di daerah pegunungan dan terpencil. Salah satu daerah endemis yodium berada di Ngargoyoso, Karanganyar. Kekurangan yodium di suatu wilayah diakibatkan oleh rendahnya kadar yodium di dalam tanah dan air di wilayah tersebut.

Pakar Gizi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Yulia Lanti Retno Dewi mengatakan, kekurangan yodium pada manusia menyebabkan gangguan kesehatan yang disebut gangguan akibat kekurangan yodium (Gaki). Ini dapat menyerang semua umur. Mulai dari janin, bayi baru lahir, anak-anak, remaja, ibu hamil, orang dewasa, dan usia lanjut. 

“Hal ini terjadi karena yodium merupakan bahan pembentuk hormon tiroid yang berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan,” jelas Yulia Lanti Retno Dewi, kemarin.

Untuk menentukan ada tidaknya kekurangan yodium di suatu daerah, kata Yulia, bisa dilakukan dengan cara mengukur kadar yodium di dalam air seni. Sekaligus ada tidaknya pembesaran kelenjar gondok, terutama pada anak sekolah dasar. 

“Makin kecil kadar yodium dalam urin, makin berat kekurangan yodium di sana. Sebaliknya makin banyak anak sekolah dasar yang menderita gondok makin berat kekurangan yodium,” ujarnya.

Sebenarnya sudah lama pemerintah berusaha mengatasi kekurangan yodium. Mulai dari suntikan yodium yang dilarutkan dalam minyak, kapsul yodium, sampai penggunaan garam beryodium. Namun, sampai saat ini masih terjadi.

Selama ini upaya penanggulangan tersebut mengikuti paradigma lama, yakni yodium cukup apabila kekurangan yodium dipenuhi dengan suplemen yodium. Artinya, paradigma ini beranggapan bahwa kekurangan yodium tidak dapat diubah dan merupakan sebab dari semua Gaki.

“Dalam penelitian di Kecamatan Ngargoyoso, warga setempat sudah membeli garam beryodium, namun jumlah anak yang menderita gondok justru meningkat pesat. Sehingga bisa dikatakan ada faktor lain ikut berperan. Yakni ekologi. Dalam perspektif ini kekurangan yodium adalah akibat dari interaksi berbagai faktor lingkungan,” ungkapnya.

Yulia merekomendasikan perlu ada paradigma baru dalam penanggulangan kekurangan yodium. Yakni, yodium cukup apabila kekurangan yodium dipenuhi dengan suplemen yodium dilengkapi dengan upaya lain dalam masyarakat. Upaya tersebut berupa pembatasan pemberian izin mendirikan bangunan (IMB) di puncak dan lereng gunung untuk mencegah erosi. Kemudian menyebarluaskan informasi bahan makanan yang dapat memperberat gondok.

“Juga memperbaiki kualitas garam. Mulai dari produksi, distribusi, penyimpanan, pengolahan, hingga saat dikonsumsi agar yodiumnya tidak hilang. Meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan suplementasi yodium, dalam perspektif ekologi menjadi penting dalam penanggulangan kekurangan yodium,” tegasnya.

Penelitian ini membawa Yulia meraih gelar guru besar di bidang ilmu gizi. Dengan gelar ini, dia menjadi guru besar ke-202 UNS dan ke-42 di fakultas kedokteran (FK). Dalam pengukuhannya hari ini, dia membacakan pidatonya berjudul “Kekurangan Yodium Dalam Perspektif Ekologi dan Upaya Penanggulangannya”. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia