Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Peternak Nakal Jegal Bantuan Sapi

Pemkab Gandeng Kejari Lakukan Penagihan

15 Oktober 2019, 13: 55: 47 WIB | editor : Perdana

SEKTOR ANDALAN: Petugas memeriksa kondisi kesehatan hewan ternak. Di Wonogiri, bantuan gaduh sapi tak lancar.

SEKTOR ANDALAN: Petugas memeriksa kondisi kesehatan hewan ternak. Di Wonogiri, bantuan gaduh sapi tak lancar. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Pemkab lewat dinas kelautan, perikanan dan peternakan telah berupaya meningkatkan kesejahteraan peternak dengan program bantuan sapi gaduhan. Namun, ada saja oknum nakal sehingga sapi yang digaduhkan tak bergulir ke peternak lainnya.

Jumlah penggaduh bermasalah tersebut mencapai 27 orang. Pemkab meminta bantuan personel Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri untuk melakukan penagihan.

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Wonogiri Sutardi menyatakan, program tersebut diluncurkan pada 2004-2013 dengan sasaran 324 kelompok tani.

Sapi yang digulirkan sebanyak 3.208 ekor yang dibeli menggunakan dana alokasi khusus (DAK), APBD Jateng dan Wonogiri. “Sejak guliran pertama sudah ada yang mecet. Hingga saat ini masih ada yang macet,” jelasnya, Senin (14/10).

Secara sederhana, teknis program gaduhan sapi itu yakni, peternak mendapat pinjaman satu ekor sapi betina. Setelah sapi beranak, anaknya digulirkan ke peternak lain untuk dikembangkan dan digulirkan lagi. 

Anakan kali kedua bisa dijual dan hasilnya dibagi dua antara peternak dan pemerintah. Sedangkan indukannya menjadi milik peternak.

“Program ini sangat menguntungkan peternak. Banyak yang sukses. Tapi ada saja yang nakal,” katanya.

Peternak penggaduh nakal tersebut memiliki beragam alasan sehingga bantuan gaduh sapi tidak bergulir. Seperti terdesak kebutuhan sehingga menjual sapi gaduhan, sapi diinfokan mati atau tidak beranak lalu dijual. Padahal sapi dengan masalah reproduksi bisa ditukarkan.

Faktor lainnya, penggaduh sakit atau meninggal dunia, sehingga sapi ikut “menghilang”. "Yang (gaduhan) macet sudah kita tagih. Ada yang selesai, ada juga yang sulit. Sebab itu, kita kerja sama dengan kejaksaan untuk penagihan," tegasnya.

Kepala Kejari Wonogiri Agus Irawan Yustisianto melalui Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Benny Kurniawan mengatakan, pihaknya menjalin MoU dengan pemkab untuk menagih 27 penggaduh yang macet.

Puluhan peternak penggaduh itu diundang ke kantor kejari, Senin (14/10) untuk melakukan pembayaran gaduhan ternak. Namun, hanya tiga peternak penggaduh hadir.

“Dijual sapinya, tapi (uang) tidak disetorkan (ke pemkab). Dari keterangan para peternak, (bantuan hewan) ternak dijual karena terdesak kebutuhan,” kata dia.

Ditegaskan Benny, 27 peternak itu harus mengembalikan uang ke pemkab seharga satu sapi dan setengah anaknya. Dari tiga orang peternak penggaduh yang hadir ke kantor kejari, baru dua orang mengembalikan kewajibannya dengan cara diangsur. "Total hasil penagihan hari ini (kemarin) Rp 2.225.000 langsung disetorkan ke bank," ucapnya.

Lebih lanjut diterangkan Benny, perkara itu diselesaikan dengan cara nonlitigasi, yakni penyelesaian sengketa hukum perdata dan tata usaha negara di luar pengadilan/arbitrase yang

dapat dilakukan antara lain dengan negosiasi. Sehingga, cara yang dilakukan yaitu penagihan, dengan diundang dan didatangi ke rumah.

"Tidak bisa dipidana, tidak ada unsur pidana dan gaduh sapi ini sifatnya bantuan, jadi ya harus dikembalikan," pungkasnya. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia