Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Waspada dengan Informasi yang Bombastis

15 Oktober 2019, 13: 58: 48 WIB | editor : Perdana

BERMUTU: Diskusi film dokumenter Wani Urip Wani Santun di SMAN 1 Sukoharjo, Senin (14/10).

BERMUTU: Diskusi film dokumenter Wani Urip Wani Santun di SMAN 1 Sukoharjo, Senin (14/10). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Kementerian Komunikasi Informatika mencatat ada 800.000 konten negatif yang terdiri atas ujaran kebencian, hoax, situs radikal, pornografi dan sebagainya dalam dua terakhir. Hal tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi perilaku generasi muda. 

Sebab itu, Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta berusaha membentengi generasi muda lewat diskusi film dokumenter Wani Urip Wani Santun yang menggandeng SMAN 1 Sukoharjo, Senin (14/10). Kegiatan tersebut diikuti 45 siswa kelas X.

“Dibutuhkan gerakan masif untuk mengampanyekan perdamaian dan konten-konten positif di media sosial maupun offline,” ujar manajer program PKPPN Abd. Halim kemarin.

Peserta diskusi diajak menceritakan pengalaman ketika bersinggungan dengan berita hoax maupun ujaran kebencian. “Kami juga memaparkan indikator berita hoax agar siswa dapat mengetahui, oh… ini tho informasi hoax. Jadi nanti saya harus bagaimana dalam bersikap? Dengan begitu siswa bisa berhati-hati menyikapi informasi seperti itu,” terang salah seorang pemateri Alfin Miftahul Khairi.

Menurut dia, informasi hoax dapat dilihat melalui judul bombastis, sedangkan konten cenderung mengadu domba dan memfitnah. Tujuannya menimbulkan kekacauan di masyarakat. Dengan mengatahui indikator tersebut, Alfin berharap pelajar dapat menyaring informasi sebelum menyebarkannya.

Salah seorang peserta diskusi Fatya Chairi membagikan trik damai dalam bermedia. Seperti mengedepankan tabayyun, selektif terhadap informasi, menghindari informasi yang sumbernya tidak jelas dan bahasa provokatif. 

“Jika tidak yakin dengan informasi, lebih baik tidak di-share. Berhenti di kita saja. Karena nanti bisa merugikan orang lain,” tegasnya. 

Kepala SMAN 1 Sukoharjo Sri Suwarsih menyambut antusias kegiatan itu. Diterangkannya, pemuda adalah penerus kepemimpinan bangsa. “Mereka harus menjadi insan yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berkarakter. Salah satunya adalah sikap santun. Harus ada keseimbangan antara kecerdasan IQ dan perilaku,” beber dia. (rgl/wa)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia