Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Disparpora Karanganyar Banjir Komplain Pelaku Usaha Wisata

Terkait Larangan Bus Pariwisata di Tiga Jalur

16 Oktober 2019, 15: 38: 45 WIB | editor : Perdana

TEMPAT TRANSIT: Terminal Wisata  Makuthoromo bakal menjadi lokasi pemberhentian bus pariwisata.

TEMPAT TRANSIT: Terminal Wisata  Makuthoromo bakal menjadi lokasi pemberhentian bus pariwisata.

Share this      

KARANGANYAR – Rencana penerapan pembatasan jumlah berat bruto (JJB) kendaraan pariwisata di tiga jalur wisata Bumi Intanpari memancing reaksi dari sejumlah pelaku usaha. Pemilik biro travel maupun pengelola tempat wisata di Ngargoyoso dan sekitarnya khawatir pembatasan JJB kendaraan pariwisata itu berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar Titis Sri Jawoto mengakui, pihaknya mendapat sejumlah komplain dari para pelaku usaha pariwisata. Baik itu pemilik biro travel maupun pengelola tempat wisata. Komplain itu terkait rencana penerapan pembatasan JJB bus pariwisata. Mereka khawatir aturan itu bakal berdampak pada kunjungan wisatawan yang menurun.

Sebagai informasi, disparpora mulai mensosialisasikan aturan tentang larangan melintas di tiga jalur rawan bagi bus pariwisata dengan berat lebih dari 8 ton. Yakni di jalan Sudimoro menuju Ngargoyoso, jalan Matesih menuju Girilayu, dan jalan Srandon menuju Puntukrejo. Sebab, kondisi jalan yang sempit dan menanjak cukup rawan untuk dilalui kendaraan besar.

”Iya, sejak aturan itu disosialisasikan, kami mendapat banyak komplain dari pelaku usaha pariwisata. Ada juga yang menolak,” ujar Titis kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (15/10).

Menindaklanjuti komplain tersebut, Bupati Karanganyar Juliyatmono menuturkan, pemkab akan memberikan toleransi bagi bus pariwisata. Untuk berwisata ke Ngargoyoso dan Matesih, masih diperbolehkan menggunakan bus pariwisata. 

Namun demikian, toleransi itu bersifat sementara sembari pemkab menyiapkan armada penghubung yang akan digunakan mengangkut wisatawan menuju lokasi wisata. Sebab, nantinya bus pariwisata harus berhenti di Terminal Wisata Makuthoromo. Selanjutnya, wisatawan melanjutkan perjalanan dengan armada penghubung menuju lokasi wisata,

“Kita berikan toleransi sambil persiapan. Saya ingin yang sudah berjalan, ya tetap dijalankan. Jangan sampai dilarang sambil nanti memperluas sosialisasi. Sampai akhir tahun bita berikan toleransi, kelonggaran,” terang bupati.

Lebih lanjut diungkapkan Juliyatmono, aturan pembatasan JJB kendaraan pariwisata tersebut masih bisa direvisi. Sebab, pemkab juga masih butuh berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder guna menyiapkan armada penghubung. Salah satunya dengan penyedia armada transportasi penghubung. 

“Kita sudah tawarkan ke sejumlah pengusaha untuk mempersiapkan bus khusus untuk mengantar wisatawan. Kemarin, kita juga sudah berbincang dengan pihak kementerian perhubungan untuk bisa memberikan bantuan bus pariwisata ukuran kecil,” pungkas bupati. (rud/ria)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia