Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Siswa SMK PL Leonardo Klaten Ciptakan Aplikasi Trash Can Finder

17 Oktober 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

IDE CEMERLANG: Pangestu Nugroho (kiri) dan kedua temannya tunjukkan aplikasi TC-Finder, kemarin (16/8).

IDE CEMERLANG: Pangestu Nugroho (kiri) dan kedua temannya tunjukkan aplikasi TC-Finder, kemarin (16/8). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Tumpukan sampah acap kali menggunung usai gelaran car free day (CFD) di Jalan Pemuda Klaten tiap Minggu pagi. Kondisi ini mematik keprihatinan Pangestu Nugroho, 17, Willy Adriel Putra W, 17, dan Senli Yisdiantoro, 17. Tiga siswa SMK Pangudi Luhur (PL) Leonardo Klaten ini lalu menciptakan aplikasi Trash Can (TC) Finder.

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

HUTAN Kota Gergunung, kemarin (16/10), dipadati puluhan booth yang memajang kerajinan tangan dari hasil daur ulang sampah. Handycraft ini dipajang dalam pameran produk bank sampah yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten. Pameran diikuti 31 bank sampah, pegiat lingkungan, serta sembilan sekolah adiwiyata.

Nah, di salah satu booth, nampak tiga siswa berseragam abu-abu putih sedang sibuk mengutak-atik handphone. Mereka dengan seksama mengamati keranjang sampah plastik warna hijau. Di bagian tutup terdapat sebuah panel tenaga surya. Ya, ketiganya tak lain Pangestu Nugroho, Willy Adriel Putra W, dan Senli Yisdiantoro. Siswa kelas XII SMK PL Leonardo.

Kreativitas mereka membuahkan sebuah aplikasi untuk menemukan lokasi tempat sampah terdekat via smartphone. Aplikasi tersebut bernama TC-Finder. Aplikasi tersebut dikembangkan sejak Agustus. 

TC-Finder mengusung konsep internet of things. Punya kemampuan mentransfer data lewat jaringan. Tanpa memerlukan interaksi. Dibekali pula global positioning system (GPS). Sehingga memudahkan seseorang menemukan lokasi tempat sampah terdekat dari posisi terakhir.

“Awalnya saya sering lihat sampah berserakan sepanjang Jalan Pemuda usai CFD. Kotor sekali. Lalu saya berpikir, apa yang harus saya perbuat? Lalu kepikiran membuat aplikasi TC-Finder dan disetujui dua teman saya,” ujar Pangestu.

Mengoperasikan TC-Finder, tempat sampah dijejali tiga komponen penting. Mulai dari mikrokontroler, baterai berkapasitas 10.000 mAH, plus panel surya serta sensor. Ketiga komponen ini punya peran masing-masing. 

Dalam perkembangannya, aplikasi tersebut terus mengalami penyempurnaan. Baterai contohnya. Mereka memanfaatkan panel surya untuk mengisi daya baterai. “Melalui sensor yang dipasang di tempat sampah, kita jadi tahu berapa volume di dalamnya.  Akan muncul persentase sesuai penuh dan tidaknya sampah di dalam. Perangkat seperti ini cocok diterapkan di kawasan perkotaan,” terangnya.

TC-Finder diklaim bakal memudahkan kinerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Klaten. Sebagai catatan, dinas tersebut selama ini dipercaya mengelola sampah di Kota Bersinar. Bisa menyingkat waktu pengangkutan sampah dari tempat sampah di seluruh Klaten. Mengingat volume sampah bisa diketahui dari aplikasi TC-Finder.

Aplikasi itu juga memudahkan pengendara kendaraan dari berbagai kota saat menemukan lokasi tempat sampah terdekat. Aplikasi ini cocok diterapkan saat musim mudik Lebaran tiba. Saat ini, TC-Finder sudah diterapkan di empat sekolah di bawah naungan Yayasan Pangudi Luhur. Yakni SMK PL Leonardo, SMP PL Klaten, SMP PL Wedi, dan SMP PL Cawas. “Biaya membuat semua perangkat hanya Rp 355 ribu per tempat sampah. Rencananya kalau diproduksi masal, per tempat sampah sekitar Rp 550 ribu,” beber Pangestu.

Aplikasi yang dikembangkan ketiga siswa SMK PL Leonardo ini sempat maju ke ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) se eks Karesidenan Surakarta. Meski tidak juara, namun ikut maju sampai tingkat Provinsi Jawa Tengah. “Akan kami ikutkan dalam lomba di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Oktober nanti,” katanya. (*/wa)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia