Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Tak Pernah Merantau, Terduga Teroris AA Pilih Rawat Ibunya yang Lumpuh

17 Oktober 2019, 19: 11: 43 WIB | editor : Perdana

Rumah orangtua terduga teroris di Masaran, Sragen

Rumah orangtua terduga teroris di Masaran, Sragen (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Abdul Aziz (AA), 25, terduga teroris yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada Rabu (16/10), diketahui selama ini merupakan anak rumahan. Sejak sekolah, dia memilih tak merantau karena ingin merawat ibunya yang menderita stroke dan lumpuh.

Saat Jawa Pos Radar Solo mendatangi rumah orang tua AA di Dusun Masaran Kulon RT 08, Desa Jati, Kecamatan Masaran, Kamis (17/10), tampak Slamet, ayah AA, baru saja datang dengan menuntun sepeda. Lelaki paro baya itu baru saja ngangsu atau mencari air di rumah tetangga.  

”Kalau sekarang ini keburu cari air, mau mandi aja susah,” ujar Slamet.

Diungkapkan Slamet, sang istri Jamiyem menderita sakit lumpuh. Selama ini, AA dan istrinya Novi Maryam, 18, yang merawat Jamiyem. Namun, sejak putra dan menantunya ditangkap densus, praktis hanya Slamet lah yang menjadi tumpuan Jamiyem.

Slamet sendiri tak mengetahui proses penangkapan anak dan menantunya. Sebab saat penangkapan, dia baru keluar rumah. Jamiyem yang melihat sendiri detik-detik saat menantunya ditangkap. Sementara AA ditangkap di lokasi berbeda, yakni di sebuah toko onderdil sepeda motor sekitar Pasar Masaran, Sragen.

Jamiyem pun menceritakan, saat penangkapan di rumah, dia hanya bersama menantunya Novi Maryam yang sedang tidur. Polisi berpakaian preman datang dan menanyakan tentang Maryam. Setelah itu, petugas menangkap menantunya dan memberikan surat penangkapan.

Bercerita soal keseharian AA, dia menyampaikan, anaknya tidak pernah pergi jauh dari rumah. Selepas lulus sekolah, AA memilih di rumah merawatnya. Sementara dua kakak perempuannya sudah menikah dan ikut suami masing-masing.

”Kesehariannya jualan jam secara online, tidak pernah pergi jauh dari rumah. Melihat mboke sakit seperti ini, dia tidak tega pergi jauh,” terang Jamiyem dengan nada sendu.  

Jamiyem menderita stroke dan lumpuh sejak 4 tahun lalu. Kala itu, AA masih duduk di kelas III SMK Bina Taruna Sragen. Selama ini, AA tidak pernah merantau keluar kota.

Bahkan, perkenalan dengan Novi Maryam sekitar setahun lalu pun diperkirakan hanya melalui media sosial. Pada suatu hari, tiba-tiba saja AA pamit pergi ke Kediri untuk menikahi Novi. Novi adalah warga Brebes, tapi menjadi santriwati di salah satu pondok pesantren di Kediri. (din/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia