Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

UTP Buka Prodi Perawatan Pesawat Terbang

18 Oktober 2019, 14: 41: 29 WIB | editor : Perdana

UTP Surakarta saat menggelar wisuda

UTP Surakarta saat menggelar wisuda (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Jumlah pesawat udara di Indonesia lebih dari 800 unit. Biaya perawatan tembus 2,19 triliun US dollar per tahun pada 2023. Saat ini, hanya 30 persen perawatan pesawat dilakukan Maintenance Repair & Overhaul (MRO) di Indonesia, sisanya oleh negara tetangga.

“Pesawat yang beroperasi masih seluruhnya produk luar negeri. Sistem kebandaraan dan navigasi udara masih menggunakan produk luar negeri. Pendapatan Angkasa Pura 1 dan 2 lebih dari Rp 10 triliun dengan jumlah sumber daya manusia (SDM) mencapai 8 ribu orang. Dan masih butuh 400 orang tiap tahunnya,” beber Rektor Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Tresna Priyana Soemardi dalam kegiatan penyerahan surat keputusan (SK) izin pembukaan program studi (Prodi) D3 Teknologi Perawatan Pesawat Terbang, di kampus setempat, kemarin.

Tresna menyebut, kebutuhan SDM mencakup operasi kebandaraan. Meliputi infrastruktur runway, apron, terminal, dan pendukungnya. Untuk itu, melalui program studi (prodi) baru ini, pihaknya ingin menjadi bagian dari itu semua.

“Dalam jangka panjang, kami akan memenuhi rantai pasokan industri kedirgantaraan global. Saat ini, pasokan kami adalah SDM. Ke depan tentu akan ada link industri yang ingin kami wujudkan, yang realistik yang bisa kami kerjakan,” ungkapnya.

Sejak 2013, UTP telah merintis prodi perawatan pesawat udara. Prodi ini menjadi satu-satunya di Jawa Tengah. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah mencatat dari 1.238 prodi di 255 perguruan tinggi swasta (PTS) dan sembilan perguruan tinggi negeri (PTN), belum ada satu pun yang memiliki prodi serupa.

“Prodi semacam inilah yang dikehendaki presiden. Sebab generasi milenial butuh prodi yang berbeda. Dan UTP sekaligus menjawab permasalahan soal kedirgantaraan. Semoga prodi ini membuka pintu memunculkan prodi lain yang aplikatif dan dibutuhkan masyarakat,” kata Kepala LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah, DYP Sugiharto.

Rencananya, prodi ini mulai dibuka pada tahun ajaran baru mendatang. Membuka dua kelas dengan total sebanyak 70-80 mahasiswa. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia