Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

7 Ton Apem Ludes dalam Sekejap

19 Oktober 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Gubernur Ganjar Pranowo didampingi Bupati Klaten Sri Mulyani ikut menyebar apem pada acara Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten, Jumat (18/10).

Gubernur Ganjar Pranowo didampingi Bupati Klaten Sri Mulyani ikut menyebar apem pada acara Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten, Jumat (18/10). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Terik sinar mentari tidak menyurutkan ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi sebar apem Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten. Mereka berkumpul di lapangan Klampeyan di sekitar kompleks Makam Ki Ageng Gribig untuk berebut tujuh ton apem. Dalam waktu sekejap, apem yang disebar itu sudah ludes.

Upacara sebar apem Yaa Qowiyyu merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan warga Jatinom setiap tahun. Tujuannya untuk mendapatkan berkah melalui apem yang telah didoakan. Tradisi ini terinspirasi dari tokoh Ki Ageng Gribig yang merupakan seorang ulama pada masa Kerajaan Mataram Islam sekitar 1600. 

Secara khusus Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir dalam tradisi ini dengan didampingi Bupati Klaten Sri Mulyani. Ganjar juga sempat ikut menyebarkan apem ke arah masyarakat yang sudah menunggunya sejak pagi. Dia pun mengapresiasi tradisi saparan dengan sebar apem yang sudah genap berjalan 4 abad itu.

“Tadi saya dibisiki jika tradisi sebaran apem sudah berlangsung genap 4 abad. Betapa indahnya ketika kita bisa berkumpul nguri-nguri kebudayaan di sini. Apalagi filosofi yang dijelaskan khatib tadi bisa menambah rezeki dan seduluran,” jelas Ganjar, Jumat (18/10).

Ganjar juga sempat menyapa para pengunjung yang sudah tumpah ruah di lapangan. Dia juga sempat menanyakan asal daerah yang membuat mereka datang untuk berebut apem. Ada di antaranya mereka berasal dari luar Pulau Jawa.

Keberagaman asal daerah yang diperlihatkan dalam tradisi itu membuat Ganjar menyerukan persatuan dan kesatuan. Terlebih lagi momennya jelang pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober mendatang. Ganjar juga sempat mengajak masyarakat untuk berdoa sejenak agar pelantikan pada akhir pekan itu bisa berjalan lancar.

“Alangkah indahnya tradisi saparan Yaa Qowiyyu. Saya selalu menanti-nantikan tradisi ini kapan dilaksanakan dan bisa hadir untuk sekian kalinya. Saya harapkan Indonesia tetap aman, tentram dan diberikan kesejahteraan,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani juga sumringah dengan tradisi saparan Yaa Qowiyyu dengan sebaran apem semakin meriah. Terlebih lagi masyarakat yang berdatangan juga datang dari luar Pulau Jawa.

“Selamat datang untuk seluruh masyarakat dari eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Tradisi sebaran apem kali ini juga dihadiri masyarakat dari Lampung. Saya harapkan tradisi ini menjadi alat pemersatu bangsa,” ucapnya.

Dia berharap penyelenggaraan Yaa Qowiyyu ini bisa memberikan manfaat kepada berbagai pihak. Termasuk memberikan kebahagiaan  bagi warga Jatinom. Sebab, tradisi saparan menjadi momen berkumpulnya sanak saudara selayaknya saat Lebaran.

Salah satu pengunjung asal Sleman, Adam Sutanto, 48, mengaku beberapa kali mengikuti tradisi sebaran apem. Meski sudah ikut berebut sebelum pulang dia selalu menyempatkan untuk membeli apem yang dijajakan di berbagai sudut Kelurahan Jatinom.

“Ini tadi beli 50 apem untuk oleh-oleh di rumah. Sebab, apem buatan warga Jatinom ini beda,” ujarnya.

Sekretaris Pengelola, Pelestari, Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) Moh Daryanto menambahkan jika tradisi sebaran apem ini sudah berlangsung sejak 1619. Tahun ini telah genap 4 abad.

“Setiap tahun antusias warga Kelurahan Jatinom untuk bersedekah dengan menyetorkan apem menjadikan total 7 ton yang disebarkan.  Salah satu pemaknaan dari tradisi Yaa Qowiyyu ini juga dijadikan Ki Ageng Gribig sebagai media dakwah,” ujarnya. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia