Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Seniman Gaungkan Kampanye Peduli Lingkungan

Ubah Sampah Plastik Jadi Wayang, Diadopsi ke Spanyol

19 Oktober 2019, 07: 55: 59 WIB | editor : Perdana

Radar Solo

Radar Solo

Share this      

SAMPAH selalu menjadi persoalan krusial. Para seniman yang tergabung dalam Wayang Sampah (Wangsa) Solo ini memiliki cara unik dalam mengajak warga peduli sampah. Pendekatan yang dilakukan dari kaca mata budaya. Seperti apa kiprahnya?

ARIF PRAYOGA, Solo, Radar Solo

DITEMUI di basecamp yang diberi nama “Matahari Jawa” ini, pria yang kerap dipanggil Toni Konde ini sedang memainkan sejumlah alat musik yang dibuat dari barang-barang tak terpakai. Mulai dari kendang, kenong, rebab, bundengan, dan lainnya. 

Di basecamp inilah sejumlah tokoh wayang dan alat-alat musik dari sampah hasil kreativitas komunitas ini disimpan. Di tempat ini juga mereka biasa berkumpul, baik berlatih pentas wayang, maupun membahas rencana komunitas ini ke depannya.

“Awal terbentuk komunitas ini 2014. Kami ingin mengenalkan gaya hidup 3R, reduce, reuse, dan recycle kepada masyarakat. Selain itu, kami juga ingin melestarikan budaya wayang dan mengenalkan kepada masyarakat dengan cerita tentang peduli lingkungan,” jelas pendiri sekaligus ketua Komunitas Wangsa Solo, Muhammad Sultoni, 42.

Sebelum komunitas ini berdiri, Sulton sudah aktif di bidang kebudayaan wayang beber. Bahan wayang beber ini semuanya menggunakan warna alam. Tetapi karena ada permasalahan tentang sampah plastik, akhirnya Sulton memiliki ide membuat sampah plastik menjadi wayang golek sebagai bahan kampanye. 

“Kami memilih wayang golek karena lebih mudah dibuat dengan sampah-sampah seperti botol, kresek, dan gelas plastik.” Lanjut Sulton.

Sulton mengaku belajar membuat wayang dari sampah secara otodidak. Ide kreatifnya muncul ketika melihat sampah plastik dibiarkan berserakan. Dari situlah tercipta berbagai macam karya seni.

Saat ini sudah lebih dari 50 wayang tercipta. Skrip cerita yang mereka bawa adalah murni karangan komunitas Wangsa Solo. Semuanya mengambil isu-su pencemaran lingkungan dan kampanye peduli lingkungan. Tokoh yang menjadi maskot dalam setiap cerita adalah punokawan Mbah Wangso yang mengambil nama komunitas sebagai tokoh wayang. Selain itu, ada Gimbal, Gembul, dan Gombal yang juga merupakan anggota punokawan. 

Anggota komunitas ini sekarang mencapai 15 orang. Selain dari Solo, beberpa anggota berasal dari manca negara, seperti Hungaria dan Spanyol. Turis-turis tersebut aktif menjadi dalang membawakan beberapa cerita saat pentas wayang sampah. 

Rupanya keberadaan komunitas wayang sampah ini menarik perhatian Elena, anggota Wangsa yang berstatus warga negara Spanyol. Sampai di negaranya dia membuat komunitas serupa di negeri asalnya. Dia membuat kampanye peduli lingkungan dengan pertunjukan bayangan dari wayang sampah laut. Pertunjukan wayang biasanya dilakukan di desa-desa, sekolah-sekolah, dan di universitas. “Terakhir kemarin di UNS sama di ISI.” Jelas Sulton.

Selain mengadakan pertunjukan, komunitas ini juga beberapa kali mengadakan workshop pembuatan wayang berbahan dasar sampah plastik. Sulton mengaku bahwa saat ini beberapa wayangnya belum kembali dari pameran dan workshop yang baru saja diadakan di Thailand. Dalam workshop tersebut, Wangsa Solo memberi tahu apa saja bahan yang diperlukan dan cara membuat boneka atau wayang dari sampah.

Musik yang mengiringi pertunjukan wayang sampah tidak selalu musik-musik khas jawa. Beberapa kali musik etnis juga digunakan sebagai pengiring. Kebetulan ada beberapa anggota yang berdomisili selain Indonesia. Beberapa lagu berbahasa selain Indonesia dan Jawa turut diperdengarkan. 

“Saat ini baru ada dua lagu yang berbahasa Hungaria. Rencananya dalam waktu dekat juga akan mulai rekaman lagi,” jelas Denok Wangsa, anggota Wayang Sampah Solo.

Komunitas ini sangat terbuka bagi orang-orang yang peduli tentang permasalahan sampah maupun penggemar wayang serta berbagai seluk beluk yang mengiringinya, seperti dalang, sinden, pemusik, visual, dan lain sebagainya. 

“Kalau mau gabung, gabung aja, tidak ada persyaratan tertentu. Kami sangat terbuka,” lanjut Denok.

Menurut Denok, sampah yang saat ini menjadi permasalahan umum, baik di Indonesia maupun penjuru dunia merupakan masa depan. Sisi positif maupun negatif dari sampah tergantung dari manusia yang melihat sampah itu. Ada yang menjadikan sampah untuk berkreativitas, ada juga yang kurang peduli dengan sampah tersebut sehingga menyebabkan bencana alam. 

Dari situlah Wangsa mengambil kesempatan untuk mengobah pola pikir masyarakat yang sekarang ini menjadi produsen sampah agar peduli atau bisa memanfaatkan sampah-sampah yang berserakan lebih bermanfaat. (ryan agustiono, abdul hakim ansori /bun

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia