Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Temukan Puluhan Spesies Fauna Langka Di Hutan Gunung Bromo Karanganyar

19 Oktober 2019, 08: 55: 59 WIB | editor : Perdana

Temukan Puluhan Spesies Fauna Langka Di Hutan Gunung Bromo Karanganyar

KARANGANYAR – Kawasan hutan Gunung Bromo Karanganyar menyimpan potensi besar. Dari hasil penelitian Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Universitas Sebelas Maret (UNS) ditemukan sejumlah fauna langka yang dilindungi undang-undang (UU) di kawasan itu. Mengantisipasi adanya perburuan liar, maka perlu pengamanan optimal.

Tim peneliti fauna UPT Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan UNS Surakarta Ike Nurjuita Nayasilana menemukan, ada 44 spesies burung. Empat di antaranya adalah jenis raptor, yakni elang ular, elang bido, elang hitam, dan elang jawa.

“Di Asia ada sekitar 250 jenis elang. Empat jenisnya ada di KHDTK ini. Setelah ini, kami akan lakukan observasi lebih lanjut. Termasuk masa breeding-nya,” beber Ike usai peresmian kantor UPT Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan UNS, kemarin.

Spesies burung lain yang ditemukan, ada bubut jawa. Burung jenis ini termasuk endemik di rawa-rawa. Namun Ike menyebut burung tersebut ditemukan di kawasan hutan. Spesies lainnya, Ike menemukan 19 spesies reptil.

“Untuk reptil yang ada di sini adalah reptil umum dan hampir bisa ditemukan di tempat lain. Tapi ada dua jenis reptil yang dilindungi undang-undang. Kalau dari spesies insekta, kami menemukan kupu-kupu. Ada kupu-kupu khusus endemik, warnanya kuning hitam,” sambungnya.

Spesies insekta tercatat ada 36 kupu-kupu. Sementara mamalia ada tiga spesies, yakni kelelawar, tikus, dan bajing. Ike menambahkan pihaknya akan segera meneliti keberadaan landak dan kancil di kawasan hutan tersebut. “Info yang kami dapat ada landak dan kancil juga. Tapi kami belum temui keduanya,” imbuhnya.

Kepala UPT Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan UNS, Dwi Priyo Ariyanto mengungkapkan secara ekosistem lingkungan, kawasan hutan tersebut masih lengkap. Itu dibuktikan dengan keberadaan elang sebagai puncak rantai makanan. “Kalau masih ada elang, berarti rantai makanan di bawahnya masih ada. Itu yang kami jaga,” katanya.

Divisi Inovasi dan Pengembangan Usaha UPT Kehutanan UNS Retno Tanding Suryandari menambahkan, selain memperkuat pengamanan, pihaknya juga memperdayakan masyarakat di sekitar hutan agar mereka tetap bisa memanfaatkan hutan namun tanpa perlu merusaknya.

“Hal itu di antaranya dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat di Desa Delingan dan Gedong, pembinaan usaha mikro kecil dan menengah serta pengembangan ekowisata yang melibatkan masyarakat sehingga mereka merasa ikut memiliki hutan tersebut,” ujarnya.

Wakil Rektor UNS Bidang Akademik Ahmad Yunus menambahkan perlu dilakukan pendekatan sosial dengan masyarakat sekitar kawasan hutan untuk mengajak ikut memiliki hutan tersebut. Sehingga selain memperkuat keamanan, pihaknya menyadarkan masyarakat untuk saling menjaga hutan tersebut sebagai tempat pendidikan dan pelatihan.

“Kami sudah melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat untuk menjaga hutan ini bersama-sama. Untuk keamanan, kami juga menambah polisi hutan yang berjaga giliran siang-malam. Kami juga menggandeng aparat untuk ikut menjaga kawasan ini,” ujarnya. (aya/bun

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia