Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Resmi, Disabilitas Punya Gedung Workshop Batik

19 Oktober 2019, 18: 04: 34 WIB | editor : Perdana

BERDIKARI: Disabilitas anggota Sriekandi Patra membuat batik tulis di Desa Tawangsari, Teras, kemarin.

BERDIKARI: Disabilitas anggota Sriekandi Patra membuat batik tulis di Desa Tawangsari, Teras, kemarin. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Disabilits yang tergabung dalam Sriekandi Patra di Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali akhirnya memiliki gedung workshop batik tulis. Gedung ini diresmikan General Manager PT Pertamina MOR IV Iin febrian, kemarin (18/10).

Kelompok Sriekandi Patra merupakan binaan PT Pertamina Terminal BBM (TBBM) Boyolali. Dibina lewat program corporate social responsibility (CSR). Menurut Iin, pada awal terbentuk, kelompok ini membatik di teras rumah salah seorang warga Desa Tawangsari. Melihat kondisi tersebut, TBBM Boyolali membuatkan gedung workshop di atas tanah kas desa.

“Gedung workshop ini kami lengkapi dengan sejumlah fasilitas penunjang yang ramah difabel. Dilengkapi peralatan penunjang kegiatan membatik, fasilitas alat bantu penyandang disabilitas, kamar mandi ramah disabilitas, hingga showroom produk,” jelas Iin.

Di gedung workshop ini juga akan dilaksanakan berbagai kegiatan pelatihan ketrampilan untuk penyandang disabilitas. Sebagai upaya peningkatan kapasitas dan keterampilan mereka. Sehingga mereka bisa hidup mandiri. 

Ke depan, Desa Tawangsari bisa menjadi desa inklusi yang produktif, ekonomi berkembang, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya. ”Kami harap gedung workshop ini menjadi ruang bagi para difabel lainnya untuk belajar batik dan berkarya,” papar Iin. 

Pemberdayaan penyandang disabilitas telah dirintis sejak tiga tahun silam. Dari sini, lahir batik tulis karya penyandang disabilitas. Motifnya pun terus dikembangkan. Sesuai dengan kreativitas masing-masing anggota.

Terkait motif, sedang dikembangkan batik tulis khas Sriekandi Patra. Bahkan tahun lalu, kelompok ini mampu mencatatkan omzet hingga Rp 50 juta setahun. Selain itu, juga ada satu motif batik produksi Sriekandi Patra yang telah dipatenkan, yaitu Lembu Patra.

Siti Fatimah, salah seorang pengelola kelompok Sriekandi Patra mengaku pemasaran batik tulis lewat offline dan online. “Setiap hari kami produksi. Ini kami sedang mengerjakan pesanan sarung bantal sofa untuk souvenir,” bebernya. 

Motif batik yang diproduksi, lebih banyak flora. Berupa bunga dan tumbuhan. Namun tak menutup kemungkinan membuat motif lain sesuai pesanan pelanggan. “Pelanggan bisa memesan sesuai katalog kami. Pemasaran biasanya kami ikutkan dalam pameran-pameran. Kami juga pasarkan melalui media sosial,” ujarnya. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia