Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Awas Bahan Berbahaya Di Kosmetik Kecantikan

36 Merek Kosmetik Ilegal Beredar di Solo

21 Oktober 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Perdana

36 Merek Kosmetik Ilegal Beredar di Solo

MARAKNYA kosmetik tanpa izin edar dan berbahaya di pasaran membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) makin gencar melakukan pengawasan hingga ke pelosok daerah melalui perwakilan cabang masing-masing. Hasilnya, 36 merek kosmetik tanpa izin dan berbahaya masih ada di wilayah Solo dan sekitarnya. Masyarakat diimbau agar jeli dalam memilih kosmetik yang akan digunakan.

Kepala Loka POM Surakarta Bagus Heri Purnomo menerangkan, berdasarkan hasil pengawasan Loka POM Surakarta di  Sragen, Wonogiri, Karanganyar, dan Sukoharjo sejak Januari-September 2019, ditemukan 36 merek tidak memenuhi ketentuan izin edar. 

“Mereka itu terdiri dari 1.685 picis yang semuanya tidak memiliki izin edar. Bahkan beberapa di antaranya mengandung bahan berbahaya. Bentuknya krim, lipstik, dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya masuk public warning dari pusat seperti produk krim pemutih wajah dan kulit yang beredar luas di pasaran,” jelas dia.

Ditambahkan dia, mayoritas produk tanpa izin edar itu merupakan produk impor dari negara sekitar. Sementara beberapa produk yang mengandung bahan berbahaya lebih beragam. Tidak hanya didominasi kosmetik impor, namun juga ada dari produsen dalam negeri. 

“Kebanyakan produk Korea yang belum ada izin edar. Kalau yang berbahaya malah ada merek Temulawak (krim wajah) yang sudah masuk public warning. Tapi perlu dicatat ada juga produk temulawak yang sudah ada izin edarnya, sepertinya beda produsen, hanya mirip namanya,” jelas Bagus.

Sejumlah produk itu dia dapat dari hasil pengawasan ke konter-konter kosmetik di wilayah tugas Loka POM Surakarta. Pihaknya kemudian melakukan pembinaan pada si penjual agar lebih jeli dalam jual beli produk yang akan dipasarkan. Ke depan, jika ada unsur kesengajaan dan tidak mengindahkan pembinaan tersebut, pihaknya bisa menaikkan tahapan hingga penindakan sesuai ketentuan hukum. “Jadi pengawasan ini mulai dari proses produksi sampai distribusinya,” jelas dia.

Apa saja zat berbahaya yang terkandung dalam 36 merek tersebut? Pihaknya mengatakan, beberapa merek yang diamankan mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, zat perwarna tekstil, dan zat-zat obat-obatan yang mengandung dosis di luar ketentuan. Untuk harga satuannya relatif, sejumlah produk itu ada yang dibanderol dengan harga murah hingga mahal. Namun dari semuanya itu memiliki kesamaan yakni memberikan dampak dalam waktu instan. “Rata-rata memang tergiur cepat,” terangnya.

Disinggung soal kosmetik tidak berizin dan berbahaya yang diperjualbelikan bebas di internet, pihaknya belum bisa bertindak lebih jauh. Hingga saat ini yang dapat dilakukan hanya menguji sampling dari produk yang diduga menyalahi aturan itu. Jika terbukti tidak sesuai ketentuan, pihaknya segera melapor ke jejaring yang lebih tinggi.

 “Kalau soal yang beredar di internet nanti kebijakannya BPOM Pusat bekerjasama dengan kementerian terkait. Beberapa sudah diblokir dari kementerian terkait. Namun masyarakat memang harus berhati-hati untuk melihat izin-izinnya,” papar dia.

Selain rutin mengawasi, pihaknya juga gencar memberikan informasi pada masyarakat melalui sosialisasi-sosialisasi dengan berbagai tahapan. Misalnya jeli dalam mengejek keutuhan kemasan suatu produk, cek label yang tertera khususnya dalam hal komposisi dan cara pemakaian, mengecek izin yang ditetapkan pemerintah hingga melihat batas tanggal kedaluwarsa produk tersebut. “Cek BPOM dapat diunduh lewat aplikasi,” ujarnya. 

Dokter ahli kecantikan, Dyah Cinde Cahyani meminta masyarakat lebih bijak dalam mengolah informasi di berbagai media sosial. Berdasarkan pengalaman menangani pasien, dia melihat rata-rata usia perempuan yang salah memilih kosmetik adalah golongan dewasa muda dengan jenjang usia 20-30 tahun. Menurutnya di usia seperti ini kadar salah pilih kosmetik sangat mungkin terjadi jika tidak diimbangi dengan informasi yang benar.

“Biasanya perempuan dewasa muda ini baru mulai ingin melakukan perawatan diri lebih optimal. Maka perlu kehati-hatian dalam melangkah. Jangan termakan promosi via medsos tanpa cek kebenaran,” kata dokter Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, ini.

Dijelaskan, sebuah kosmetik dikatakan berbahaya jika kandungan di dalam produk tersebut memiliki sejumlah bahan yang tidak diperuntukkan dalam produk kecantikan. Misalnya merkuri, perwarna tekstil, dan lain sebagainya. Jika kandungan berbahaya itu terakumulasi dalam tubuh dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh. “Merkuri dulu dengan injeksi. Nah sekarang berubah trennya menjadi dalam produk kecantikan dalam bentuk krim,” jelas dia.

Selain kosmetik berbahan berbahaya, ada juga kosmetik menggunakan salah satu jenis obat yang semestinya diresepkan oleh dokter. Namun dijual bebas di pasaran oleh suatu produsen tertentu. Bila tidak dalam pengawasan bisa berdampak jangka panjang. ”Nah, biasanya produsennya ini mengendorse tokoh publik yang banyak dikenal orang,” jelas Dyah. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia