Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Kabel Listrik Ganggu Estetika, Bupati Minta PLN Benahi

21 Oktober 2019, 13: 54: 44 WIB | editor : Perdana

TAK SEDAP DIPANDANG: Kondisi salah satu sudut Kota Sragen yang terlihat kurang rapi karena kabel listrik yang semrawut.

TAK SEDAP DIPANDANG: Kondisi salah satu sudut Kota Sragen yang terlihat kurang rapi karena kabel listrik yang semrawut. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Keberadaan kabel listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di pusat Kota Sragen dinilai semrawut. Untuk itu, Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati meminta PLN merapikan kabel semrawut tersebut agar tidak mengganggu keindahan kota.

Bupati yang akrab disapa Mbak Yuni itu mengaku peranan PLN sangat vital bagi masyarakat. Namun dia menekankan masih ada yang harus dibenahi dan diperbaiki. Seperti sambungan kabel listrik yang mengganggu estetika. Terutama di kawasan Alun-alun hingga Kantor Kabupaten.

”Kawasan itu wajah Kota Sragen. Tapi saya lihat kabel listrik tidak tertata rapi. Itu mengganggu estetika,” terang Yuni.

Selain itu, bupati juga menyoroti penggunaan listrik untuk sumur dalam. Di Sragen ada sekitar 6.000 sumur dalam menggunakan tenaga listrik. Namun yang berizin ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hanya sebagian saja. ”Itu yang tidak berizin jelas melanggar aturan. Silahkan PLN menertibkan,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mewanti-wanti sambungan listrik yang ada di pemukiman terlarang. Saat ini masih cukup banyak permukiman di greenbelt atau sabuk hijau Waduk Kedung Ombok (WKO). Permukiman di kawasan itu akan ditertibkan untuk menjalankan Rencana Tata Ruang Wilayah.

”Ada sambungan listrik di permukiman liar di sabuk hijau,” keluh bupati.

Manajer PT PLN Area Solo Mudhakir menerima masukan dari bupati terkait pelayanan PLN. Pihaknya akan mengecek bersama dengan dinas terkait di daerah dan menyesuaikan aturan yang ada di daerah sabuk hijau.

”Misalnya diputuskan daerah itu terlarang, akan kita selesaikan tentunya dengan pemerintah daerah,” terangnya.

Sementara soal estetika tata kota, pihaknya menyampaikan tidak menutup kemungkinan menggunakan kabel tanam. Hanya saja secara biaya jauh lebih mahal dibanding menggunakan tiang.

”Biayanya mencapai empat kali lipat. Tergantung keuangan PLN dan negara, mungkin secara bertahap dengan daerah prioritas bisa terlaksana,” ujarnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia