Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Sedimentasi Tebal, Waduk Krisak Dikeruk

21 Oktober 2019, 15: 15: 09 WIB | editor : Perdana

PEMELIHARAAN: Sejumlah alat berat mengeruk dasar Waduk Krisak di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, kemarin (20/10).

PEMELIHARAAN: Sejumlah alat berat mengeruk dasar Waduk Krisak di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, kemarin (20/10). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Sedimentasi Waduk Tandon atau Waduk Krisak di Desa Pare, Kecamatan Selogiri sudah begitu tebal. Untuk kepentingan irigasi sekaligus menyambut musim hujan, sedimentasi waduk mulai dikeruk. 

Luas tangkapan 3.50 km2 dengan elevasi 113.5 m dan memiliki volume 3.152.000 m3 ini membendung tiga sungai. Yakni Sungai Keron, Sungai Serut dan Sungai Rangkah. Waduk Tandon yang dibuat pada 1942 ini dapat melayani irigasi 874 hektare.

”Waduk Krisak sudah tidak setangguh dahulu. Pasalnya, dari semula mampu mengairi 800 hektare lebih di Kecamatan Selogiri, kini hanya mampu mengairi area 300 hektare saja,” kata Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air Daerah Irigasi Krisak Heri Trismiyanto belum lama ini.

Menurut dia, semula ada tujuh desa. Yakni Kaliancar, Singodutan, Jendi, Pule, Gemantar, Sendang Ijo dan Nambangan. Kini tinggal lima karena Krisak tidak mampu sampai ke Nambangan dan Pule.

”Hanya sampai lima desa, itupun tidak semua lahan di lima desa itu bisa teraliri,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa air tidak lagi mengalir sampai jauh. Yang pertama curah hujan memang kurang, jadi air yang masuk ke Waduk Krisak berkurang. Lalu tingkat sedimentasi di Waduk Tandon sudah tebal.

”Saat ini sedimentasi Waduk Tandon sudah mencapai 5 meter. Pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sudah melakukan pengerukan. Tapi ya belum bisa maksimal karena alat dan anggarannya katanya terbatas,” kata Heri. 

Heri menyebut saat ini kondisi Waduk Tandon sudah masuk ke tahapan pemiliharaan waduk. Air yang ada hanya dialirkan untuk pemeliharaan saja. Setidaknya 25 persen tanaman padi terancam gagal panen karena suitnya mencari air. Bahkan, sejak awal kemarau dibantarkan tidak ditanami.

”Sekarang masuk musim tanam kedua, banyak tanaman yang masih kecil-kecil. Entah nanti bisa panen atau tidak. Kalaupun bisa panen, mungkin tidak maksimal,” katanya. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia