Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

BPBD Antisipasi Datangnya Musim Pancaroba

Angin Ribut dan Tanah Longsor Mengancam

21 Oktober 2019, 15: 50: 54 WIB | editor : Perdana

GOTONG ROYONG: Masyarakat dan petugs BPBD melakukan kegiatan bersih sungai.

GOTONG ROYONG: Masyarakat dan petugs BPBD melakukan kegiatan bersih sungai. (BPBD SUKOHARJO FOR RASO)

Share this      

SUKOHARJO – Menjelang datangnya musim pancaroba, Pemkab Sukoharjo mulai melakukan upaya preventif. Selain pemetaan daerah rawan bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo juga memberikan himbauan terkait adanya potensi bencana. Seperti tanah longsor, banjir hingga angin ribut atau angin puting beliung.

Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto mengaku pihaknya telah membuat surat edaran bupati terkait potensi ketiga bencana tersebut. Surat edaran tersebut akan diberikan ke para camat, yang selanjutkan dikoordinasikan ke desa-desa sebagai langkah antisipasi.

”Karena sebentar lagi musim pancaroba. Ada tiga hal yang perlu diwaspadai. Seperti angin puting beliung, tanah longsor dan banjir ketika hujan tiba,” terangnya pada Minggu (20/10).

Selain itu, pihaknya juga telah melakukan pemetaan terhadap potensi bencana selama musim pancaroba. Seperti bencana tanah longsor yang paling berpotensi di wilayah perbukitan di Sukoharjo bagian selatan. Seperti Kecamatan Bulu, Weru dan Tawangsari.

”Kalau angin puting beliung itu semua daerah berpotensi. Dan tahun ini diperkirakan memang didominasi angin puting beliung. Karena peralihan terjadi pada November, dan diperkirakan puncak hujan terjadi pada Januari-Februari. Tidak hanya durasi hujan yang tinggi, namun, juga disertai angin kecang. Seperti tahun kemarin hujan deras disertai angin kencang,” terangnya.

Selain itu dari hasil pemetaan BPBD, ada lima kecamatan yang terancam terkena banjir. Seperti Kecamatan Tawangsari, Grogol, Polokarto, Mojolaban dan Sukoharjo. Dan masing-masing kecamatan masih dipetakan lagi. Terutama daerah yang dilintasi Kali Langsur, Kali Samin dan Sungai Bengawan Solo.

”Untuk daerah Tawangsari, sebagain besar di sekitar titik yangdilintasi sungan dan masuk di daerah berbatasan dengan Kabupaten Klaten. Seperti Desa Tawang, Desa Grogol dan Desa Karakan. Sedangkan di wilayah utara, yakni Kecamatan Polokarto yakni Desa Kadokan, Desa Pandeyan dan Desa Telukan,” terang Sri Maryanto.

Untuk desa di Kecamatan Polokarto, yang masuk perhatian adalah Pranan, Bugel, Karangwuni, Ngombakan dan Desa Mranggen. Sedangkan untuk Kecamatan Mojolaban, ada di Desa Tegalmade,  Laban, Plumbon, Gadingan dan Desa Palur. Untuk Kecamatan Sukoharjo, hanya pada selokan yang dikhawatirkan terjadi luapan.

”Rata- rata memang daerah yang dekat aliran Kali Samin, yakni Kecamatan Polokarto, Grogol dan Mojolaban. Juga daerah yang dilintasi Sungai Bengawan Solo, seperti di daerah Mojolaban,” katanya.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pencegahan bencana. Seperti pembenaran saluran drainase di beberapa titik. Selain itu dilakukan pula himbauan pada masyarakat untuk memotong ranting pohon yang berdekatan dengan rumah maupun jalan. 

”Kami juga menghimbau agar warga mengecek rangka rumah. Jika rapuh harap segera diganti. Ini sebagai bentuk kesiapsediaan jika sewaktu-waktu bencana terjadi,” terangnya. (rgl/nik)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia