Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Sisi Lain Susan Ismiyanti, Penulis Karya Fiksi Bertema Feminisme  

24 Oktober 2019, 15: 38: 03 WIB | editor : Perdana

Sisi Lain Susan Ismiyanti, Penulis Karya Fiksi Bertema Feminisme  

Menulis tentu bisa dilakukan oleh semua orang, namun menulis dengan sentuhan rasa tidak sembarang orang bisa. Susan Ismiyanti salah satunya. Karya-karya tulisannya memiliki rasa. Seperti apa sosoknya? 

SERAFICA GISCHA P, Solo, Radar Solo

SANIE, panggilan akrab Susan Ismiyanti mulai menyadari kalau dia memiliki bakat menulis ketika dia duduk di bangku SD. Ketika itu karena kondisi ekonomi keluarganya terbatas, dia sering menghabiskan waktu liburan ke rumah nenek. “Kata lainnya dititipkan. Padahal teman-teman sebaya yang lain bisa ke kota besar atau pergi ke taman bermain bahkan kebun binatang. Dan biasanya selepas liburan disuruh mengarang, bercerita mengenai liburannya. Gak mungkin dong saya cuma bercerita ke rumah nenek bantuin nenek. Saya harus menambal ruang-ruang kosong itu dengan imajinasi. Sehingga menjadi sebuah cerita liburan yang menarik,” jelas Sanie yang waktu itu mengenakan baju berwarna biru tua. 

Sanie mengatakan, sejak SD banyak imajinasi yang dia mainkan untuk membuat sebuah cerita liburan yang menarik. Tak disangka, cerita karangannya selalu dibacakan di depan kelas dan menjadi contoh terbaik. Dari situ dia mulai berpikir kalau daya imajinasinya membuat harga dirinya semakin meningkat. 

Tak jarang cerita buatan Sanie menjadi contoh bagi anak-anak seusianya. Berlanjut ke jenjang selanjutnya, saat SMP kelas 3, dia makin memperbanyak materi untuk menulis dari membaca buku dan majalah. Dia mulai berani mengirimkan cerita pendek ke salah satu majalah remaja terkenal saat itu. Dan hasilnya, tulisan Sanie di-approve dan mulai banyak yang membaca.

Beranjak SMA, Sanie sempat mengikuti salah satu sayembara atau perlombaan menulis dengan tema laporan daerah. Hobi membaca yang diimbangi dengan dolan ternyata membuahkan hasil. Dia mengambil pengalaman dari salah satu tante yang tinggal di pedesaan. “Padi Tak Sekuning Dulu Lagi” menjadi tulisan laporan daerah yang membawanya sebagai juara nasional.  Semakin dewasa, Sanie bertambah banyak bahan materi menulis. Apalagi dunia mahasiswa cukup banyak memberikan cerita serta pengalaman yang bisa dituangkan ke dalam sebuah cerita.

“Bagi saya cerita pengalaman atau yang sedang dialami teman-teman itu bisa menjadi modal saya menuliskan sebuah cerita. Terkait metafor yang saya tuangkan dalam tulisan itu, jujur keluar begitu saja. Ketika saya mendengar cerita, ide bermunculan kemudian langsung menulis. Tentu observasi itu penting, agar sebuah cerita semakin memiliki roh,” paparnya.

Perempuan kelahiran 4 Maret 1963 tersebut mengaku sudah menjadi patner majalah sejak SMA dan berlanjut hingga dia bekerja di dua tabloid mingguan populer yang sering menampilkan ceritanya. Bahkan cerita-cerita pendeknya pun tak jarang muncul di halaman koran nasional Jawa Pos.

 Meski karyanya telah diakui sejumlah media, Sanie sempat merasa tidak percaya diri dan berhenti menulis. Ini setelah beberapa orang mengatakan bahwa tulisan dia mudah ditebak siapa penulisnya. Namun, itulah yang dinamakan ciri khas. Artinya Sanie sudah mulai dikenali ciri khasnya.

“Saya sempat mengalami jeda panjang, kurang lebih 10 tahun karena pekerjaan. Waktu itu kerjaan benar-benar menyita waktu saya sampai tidak punya waktu buat diri sendiri,” ujarnya. 

Setelah keluar kerjaan dia mulai menulis lagi. Karyanya mulai muncul lagi di beberapa media. Pengalaman tak terlupakan, salah satunya ketika menuliskan cerita selepas tragedi bom di Surabaya yang dilakukan oleh seorang ibu. “Saya benar-benar masuk seakan-akan saya adalah ibu tersebut,” ujarnya.

Dia mengaku mengalami pendewasaan menulis seiring dengan perkembangan diri. Sehingga tulisannya semakin mengarah ke hal-hal terkait perempuan. Hingga kini dia sudah berhasil menerbitkan 16 buku, di mana tiga di antaranya adalah sebuah novel. 

“Membaca terlebih dahulu sebelum menjadi penulis. Kita harus memperbanyak ilmu bahkan kosa kata sebelum berperang untuk menulis. Kita baca karya orang dulu, sebelum kita ingin karya kita dibaca orang lain. Itu yang paling penting,” terangnya. (*/bun)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia