Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Krisis Air di Kota Terus Bertambah  

24 Oktober 2019, 15: 45: 30 WIB | editor : Perdana

Krisis Air di Kota Terus Bertambah  

SOLO – Krisis air bersih tidak hanya melanda warga di pelosok desa, namun juga dialami warga perkotaan. Beberapa waktu terakhir, permintaan air bersih dari sejumlah kampung di Kota Solo terus bertambah. Pasalnya, sumur mereka sudah kering, sehingga kesulitan mendapatkan air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta Eko Prajudhy Noor Aly membenarkan bahwa permintaan bantuan air bersih makin tinggi beberapa waktu belakangan. Sejumlah lokasi yang mengajukan bantuan air bersih itu seperti Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, dan Desa Joglo, Kecamatan Banjarsari. “Musim kemarau panjang yang berlangsung hampir enam bulan ini mulai berdampak di Solo. Ada sejumlah kelurahan yang mulai merasakan kekurangan air,” jelas dia, Rabu (23/10).

Dari 54 kelurahan di Solo, ada dua kelurahan yang  telah meminta permohonan permintaan dropping air bersih seperti di Kelurahan Gandekan dan Joglo. Sementara untuk kelurahan lainnya terpantau masih aman. “Di Gandekan permintaan air bersih terjadi di Kampung Bangunharjo, RW 08 Kelurahan Gandekan. Ada 80 KK di kampung tersebut yang kekurangan air bersih kita bantu air bersih. Sedangkan di Joglo, bantuan air bersih disalurkan ke 30 KK. Baik Gandekan dan Joglo masing-masing mendapatkan air bersih sebanyak 10.000 liter,” beber dia.

Pihaknya menyarankan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih bisa berkoordinasi dengan pemangku wilayah setempat, maupun PDAM dan BPDB Kota Surakarta. Tujuannya agar bantuan air itu bisa lebih tepat sasaran. “Yang membutuhkan bisa koordinasi,” kata Eko.

Salah seorang warga Kampung Bangunharjo, RT 01 RW 08 Kelurahan Gandekan, Menik membenarkan bantuan air bersih itu. Menurut dia, kekurangan yang terjadi karena sejumlah warga belum memiliki air ledeng dan hanya bergantung pada air sumur dangkal milik salah seorang warga. Di musim kemarau ini, debit air sumur itu berkurang dan membuat warga mengajukan bantuan air bersih pada pemerintah. 

“Ada 10 KK yang tak punya sumur dan numpang di sumur salah satu warga. Kalau debitnya normal tidak masalah tapi karena menipis jadi butuh suplai air,” jelas dia.

Untuk mengatasi masalah tersebut, warga berencana mengajukan usulan ke kelurahan untuk memfasilitasi sumber air umum yang bisa dimanfaatkan masyarakat khususnya bagi warga yang menggantungkan pad sumber air tanah. “Ini diusulkan untuk keran air yang bisa dipakai umum di lokasi yang mudah dijangkau warga,” jelas Menik.

Lurah Gandekan Arik Rahmadani siap mangakomodasi kebutuhan warga. Infonya, PDAM sudah melakukan survei untuk pemasangan jaringan pipa air. “Pemerintah kelurahan berupaya maksimal untuk mengakomodasi masukan dari warga. Khususnya soal kebutuhan air disini,” tutur Arik.  (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia