Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

2025, Seluruh Kampung Tanggap Bencana

25 Oktober 2019, 13: 07: 34 WIB | editor : Perdana

ASAH KEMAMPUAN: Pelatihan tanggap bencana oleh BPBD Surakarta di Kelurahan Mangkubumen.

ASAH KEMAMPUAN: Pelatihan tanggap bencana oleh BPBD Surakarta di Kelurahan Mangkubumen. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi, semua elemen masyarakat. Sebab itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surakarta menargetkan pada 2025, seluruh kelurahan di Kota Bengawan menjadi kampung tanggap bencana.

Saat ini, dari 54 kelurahan, baru 14 kelurahan yang sudah dilatih teknik tanggap bencana. “Kita tidak bisa banyak membentuk kampung tanggap bencana karena keterbatasan anggaran juga. Namun, kita targetkan 2025 seluruh kelurahan sudah siap. Kita latih mulai dari pembentukan dapur umum, penanganan di pengungsian, trauma healing untuk psikis para korban, dan teknik evakuasi,” beber Kasi Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Surakarta Singkirno, Kamis (24/10).

Menurut dia, di Kota Bengawan jarang terjadi gempa. Tapi, pihaknya tetap memberi pelatihan cara mengamankan diri. ”Kalau berada di dalam gedung, paling mudah ya (berlinding) di bawah meja. Setelah getaran gempa mereda, baru  keluar gedung menuju titik kumpul menunggu arahan selanjutnya,” tuturnya.

Lokasi titik kumpul harus memenuhi sejumlah syarat. Yakni di lahan terbuka yang di sekitarnya tidak terdapat ada  bangunan tinggi, jaringan listrik, maupun pohon.

Dalam membentuk kampung tanggap bencana, lanjut Singkirno, BPBD Surakarta menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) “Program ini terbuka. Jika ada kelurahan yang mau jemput bola, kita siap melakukan pelatihan,” tutur dia.

Sementara itu, salah satu kelurahan tanggap bencana yakni Mangkubumen. Lurah setempat Beni Supartono Putro mengatakan, secara prinsip, pihaknya menjadi tangan panjang pemkot dalam membentuk kelpmpok antibencana.

“Sudah sektiar setahun lalu dibentuk. Dilatih langsung BPBD dan PMI. Tindak lanjutnya, kita mebentuk Tim Sibat (siaga tanggap bencana) dan Tagana (taruna siaga bencana). Anggotanya dari masyarakat yang sudah memuliki background relawan dan Linmas (Perlindungan Masyarakat). Seluruhnya sekitar 30 orang. Mereka juga kita beri SK,” beber Beni.

Kelurahan Mangkubumen secara berkala melakukan latihan dan simulasi untuk mengasah skill warga terkait penanggulangan bencana. Kawasan kelurahan juga dilengkapi arah jalur evakuasi dan titik kumpul apabila terjadi bencana alam. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia