Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

PT RUM Pilih Hentikan Produksi

29 Oktober 2019, 15: 04: 38 WIB | editor : Perdana

Pipa yang diduga saluran limbah di sekitar Jembatan Nguter perbatasan antara Wonogiri dan Sukoharjo

Pipa yang diduga saluran limbah di sekitar Jembatan Nguter perbatasan antara Wonogiri dan Sukoharjo (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – PT Rayon Utama Makmur (RUM) akhirnya menghentikan kegiatan produksi pascamenerima surat dari Pemkab Sukoharjo terkait permintaan pengurangan volume produksi pada Jumat (25/10) lalu. Hal tersebut dilakukan agar bisa mengevaluasi perihal bau limbah yang mengganggu masyarakat.

Juru Bicara (Jubir) PT RUM Bintoro Dibyoseputro mengatakan, pihaknya memutuskan memberhentikan aktivitas produksi terhitung sejak hari ini (28/10). Dan kegiatan difokuskan pada pembersihan alat pengolah limbah.

“Sebelumnya perbaikan sudah selesai. Saat ini kami tinggal bersih-bersih dan tangani semua limbah yang mungkin masih ada di relung-relung agar tidak menimbulkan bau lagi,” terangnya, Senin (28/10).

Sampai kapan pemberhentian aktivitas produksi dilakukan, Bintoro mengaku belum tahu. Yang pasti PT RUM akan menunggu sampai keluhan masyarakat mereda dan tidak ada lagi emisi gas yang mengganggu masyarakat.

“Aktivitas produksi sementara ini kami hentikan sampai keluhan masyarakat reda atau emisi H2S yang mengganggu warga sudah tidak ada,” terangnya.

Salah satu warga Ngrampah, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo Sriyadi mengaku jika bau limbah PT RUM sudah mulai berkurang sejak hari ini (28/10). “Sampai saat ini relatif kurang baunya.  Tapi saat ini bau menyengat masih menyiksa pernapasan warga. Apalagi bau berubah-ubah," terangnya.

Sebelumnya Sekda Sukoharjo Agus Santosa mengirimkan surat kepada PT RUM agar mengurangi volume produksi. Surat ini menyusul adanya aduan masyarakat serta pantauan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, di mana produksi PT RUM masih menimbulkan bau tidak sedap.

Pantauan dilakukan 8 - 25 Oktober. Dan bau limbah masih tercium dan dikeluhkan masyarakat. Akhirnya pemkab menyurati PT RUM pada Sabtu (26/10). Pemkab minta volume produksi selama tujuh hari terhitung sejak surat dikirimkan agar PT RUM bisa memperbaiki. Namun, jika dalam sepekan itu (26 Oktober - 2 November) belum berhasil, PT RUM diminta  menghentikan kegiatan produksi. (rgl/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia