Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Intervensi Psikologis Dibutuhkan di Dunia Olahraga

03 November 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Perdana

PEMAPARAN: Seminar nasional  yang digelar oleh Fakultas Olahraga  UNS.

PEMAPARAN: Seminar nasional  yang digelar oleh Fakultas Olahraga  UNS. (SEPTINA FADYA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Keberhasilan atlet ditunjukkan dengan performa stamina dan kekuatan yang optimal. Namun jika tanpa intervensi psikologis, performa tersebut tidak dapat terwujud. Selama ini, intervensi psikologis oleh psikolog baru diberikan kepada atlet di tingkat pelatihan nasional. Baru sekitar 20 persen yang mendapatkan pendampingan psikolog. Sisanya, intervensi psikologis hanya dilakukan oleh pelatih.

“Di Surabaya, atlet-atlet sudah didampingi oleh psikolog, bahkan sejak di tingkat pelatihan daerah. Baik psikolog olahraga, maupun psikolog umum. Klub-klub besar juga sudah didampingi psikolog. Tapi persentasenya masih sangat kecil, sekitar 20 persen. Lainnya hanya didapatkan dari pelatih dengan melakukan mental imagery dan motivasi. Tapi kemasannya seperti apa, mereka belum melakukan sesuai standar,” beber pakar psikolog olahraga Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS), Febriani Fajar Ekawati kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Intervensi psikologi kepada atlet dan pelaku olahraga tentu berbeda dengan psikologi umum. Febriani menyebut tingkat stres pada atlet berbeda dengan stres pada orang biasa. Maka bentuk tesnya pun akan berbeda.

“Jika stres orang biasa karena keadaan atau situasi di kehidupan sehari-hari. Stres atlet terjadi karena saat dia mau bertanding atau karena beban latihan yang berat. Jika sisi psikologisnya tidak diintervensi, maka kan berpengaruh dengan perolehan hasilnya,” jelasnya.

Ia mencontohkan intervensi psikologis banyak berperan untuk atlet disabilitas. Terlebih saat mereka menunggu hasil klasifikasi. Momen penantian itu, tidak sedikit atlet disabilitas yang mengalami serangan kecemasan luar biasa. Sebab jika dia tidak lolos, artinya dia tidak bisa bertanding.

Semua atlet dari tingkat pelajar sampai profesional berhak menerima intervensi psikologi. “Intervensi psikologis itu bisa menyumbang prestasi juga bergantung dari cabang olahraga (cabor). Panahan, contohnya, itu sangat tinggi sekali peran intervensi psikologisnya. Disiplin terkait psikologis harus betul-betul diterapkan. Misalnya, mereka dalam kecemasan atau kalut, tidak akan muncul performa terbaik,” kata Dekan FKOR UNS, Sapta Kunta Purnama.

Ia mengaku referensi psikologi olahraga di Indonesia agak sulit. Untuk cabor bulu tangkis, psikologis olahraga sudah diterapkan dalam pembinaan sejak 1967 silam. Namun di cabor lain belum. “Selama ini sudah diterapkan, tapi belum maksimal dilakukan,” pungkasnya. (aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia