Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Lika-liku Pengacara Probono

04 November 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Lika-liku Pengacara Probono

Kasus hukum bisa menimpa siapapun dan kapanpun, termasuk masyarakat tidak mampu. Bila sudah berhadapan dengan hukum kebanyakan mereka hanya bisa pasrah karena tak mungkin menyewa jasa seorang lawyer. Di sinilah peran pengacara probono akan sangat membantu. Seperti apa lika-liku mereka menjalani ini?

MELIHAT tetangga dituduh mencuri dan menjalani sidang tanpa didampingi pengacara, membuat hati Th Wahyu Winarto tergugah. Begitu lulus dari fakultas hukum, dia langsung mengambil pendidikan profesi advokat dan bergabung dengan lembaga bantuan hukum (LBH) yang intens mendampingi warga tidak mampu yang tersandung masalah hukum. 

Profesi menjadi pengacara probono—pengacara yang memberi pelayanan untuk kepentingan umum atau pihak yang tidak mampu tanpa dipungut biaya— ini dijalani Th Wahyu Winarto sejak 1987.  Sudah tak terhitung berapa banyak masyarakat kurang mampu yang dia dampingi. Tujuannya hanya satu, dia ingin ada kesetaraan hak di mata hukum. 

Baru pada 1995, Wahyu mendirikan kantor secara mandiri. Meski begitu konsep Probono tetap dia pegang teguh. Setiap mendapat bayaran menangani kasus dari klien yang mampu, akan selalu dia sisihkan untuk biaya operasional ketika menangani kasus bagi orang tidak mampu 

Wahyu menceritakan bahkan pernah dia sampai terpaksa utang di koperasi hanya untuk membiayai kasus hukum bagi warga tidak mampu. “Jadi ceritanya ada seorang perempuan yang suaminya menikah lagi, namun kepada istri kedua, laki-laki tersebut mengaku jejaka. Setelah dia meninggal, istri kedua ini langsung mengubah semua aset atas namanya, termasuk aset istri pertama,” katanya.

Dalam menangani kasus ini, lanjut Wahyu, banyak biaya persidangan yang harus dia bayar sendiri. Tentu biaya tidak sedikit karena masuk dalam ranah Perdata. “Kemudian buat ongkos bolak-balik karena kejadiannya di luar kota, maka saya terpaksa harus pinjam di koperasi,” tutur lawyer yang berkantor di Banjarsari, Banjarsari ini. 

Namun sekali lagi, hal ini tidak membuatnya menyesal. Malah dia bangga karena berhasil memenangkan kasus tersebut. Sikap ini juga ditularkan kepada lawyer muda yang bekerja ditempatnya. Dia selalu menekankan kepada para lawyer muda agar terus menjaga marwah. Di mana profesi advokat tidak hanya mencari profit, namun mengedepankan sisi kemanusiaan dalam menegakkan hukum. 

“Urusan menang atau kalah itu putusan hakim. Tugas kita untuk membela klien dengan segenap hati dan semaksimal mungkin,” ujarnya

Tak hanya lawyer senior, para advokat muda juga ada yang terjun membuka layanan probono. Seperti yang dilakukan Aris Subandrio. Meski baru disumpah dua tahun silam, sudah puluhan kasus yang tidak ditarik bayaran. “Ada yang datang ke saya, ada yang tidak sengaja saya temukan,” paparnya.

Contoh kasus yang dia temukan ketika dia sedang mendampingi klien di Pengadilan Negeri Surakarta. “Ketika di ruang tunggu peserta sidang, ada bapak-bapak tua termenung sendirian, kelihatan sedih sekali. Lalu saya temui,” ujarnya. 

Saat itu, diketahui kalau bapak tersebut dizalimi oleh anak kandungnya sendiri. Di mana rumah yang dia tempati seolah-olah sudah dijual oleh pihak ketiga, padahal hal tersebut tidak pernah dilakukannya. 

“Ternyata dia ditipu anaknya. Setelah saya dampingi, berhasil menang, langsung orangnya mengucap terima kasih secara tulus,” katanya

Ya, ucapan terima kasih serta doa dan bisa melihat kliennya senang sudah cukup bagi Aris. Untuknya uang bisa dicari, namun melihat kliennya bisa bahagia itu yang paling utama.

Lalu dari mana biaya operasional? Pria yang membuka kantor advokat di wilayah Karanganyar ini mengatakan dari tabungan pribadinya yang juga berasal dari klien berbayar. “Jadi sistemnya seperti subsidi silang,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia