Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Dinas Kukm Dan Perindag Desak PKL Jual Jajanan Sehat

04 November 2019, 17: 05: 45 WIB | editor : Perdana

HATI-HATI: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri memberi surat edaran jajan sehat ke PKL.

HATI-HATI: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri memberi surat edaran jajan sehat ke PKL. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wonogiri mendorong pedagang kaki lima (PKL) untuk menjual jajanan yang sehat.

Kepada Dinas Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Wonogiri Wahyu Widayati menyebut, pihaknya sudah mendorong para PKL untuk menjual jajanan yang sehat. Hal ini disampaikan kepada para PKL saat ada pertemuan belum lama ini.

”Pekan lalu paguyuban PKL ada acara, kami diundang. Lalu kami sampaikan supaya dalam berdagang, khususnya makanan olahan agar tidak menggunakan zat pengawet atau yang lainnya,” kata Wahyu, kemarin (3/11).

Selain itu, dalam berdagang para PKL untuk juga diimbau peduli dengan lingkungan tempat berdagang untuk dijaga kebersihan dan keamanan pangannya. Sejumlah rangkaian pelatihan bagi para pedagang juga disiapkan untuk meningkatkan kemampuan para PKL.

”Kita latih untuk pengolahan makanan yang sehat dan halal, manajemen keamanan pangan serta pelatihan pembukuan sederhana,” pungkasnya. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri Yuli Bangun juga mengakui jajanan anak di sekolah tidak sehat. Maka, pihaknya telah membuat surat edaran ke sekolah-sekolah untuk menciptakan kantin sehat.

”Kita dorong untuk menyajikan jajanan yang sehat, tidak menggunakan bungkus plastik. Teh panas di plastik kan tidak sehat. Kita juga mengimbau untuk menggunakan wadah yang bisa dipakai ulang yang higienis,” kata Yuli Bangun, kemarin.

Menurut Yuli, kantin yang sehat adalah kantin yang bebas 5 P. Yakni penguat rasa, pemanis, pengawet, pewarna, dan pengental. Namun, sampai saat ini masih ada kantin sekolah yang menjual jajanan murah terjangkau dan tidak sehat.

”Contohnya ada sosis sebulan awet, padahal tidak di-freezer. Kemudian cilok, kalau ciloknya sih mungkin relatif aman, tapi sausnya itu. Penggunaan stereofoam dan kertas minyak," kata Yuli. 

Pihaknya juga mendorong orang tua untuk membawakan bekal anaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Serta, mendorong orang tua yang mampu untuk membawa bekal makanan yang lebih, supaya bisa dimakan bersama dengan temannya yang kurang mampu. Ini, sekaligus mendidik anak dalam pendidikan karakter.

”Misalnya, saat ini musim mangga. Ya bekalnya mangga, banyak setiap rumah pasti ada pohon mangga, bisa dibuat jus. Lalu, pas musim rambutan bisa bawa rambutan, dibikin koktail,” pungkasnya. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia