Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Satpol PP Razia PGOT, Pertebal Pengawasan Pusat Keramaian 

04 November 2019, 20: 51: 15 WIB | editor : Perdana

MASALAH SOSIAL: PGOT yang terjaring razia satpol PP akan dibina dan dikembalikan ke daerah asal mereka.

MASALAH SOSIAL: PGOT yang terjaring razia satpol PP akan dibina dan dikembalikan ke daerah asal mereka. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Satpol PP Surakarta mengamankan delapan orang pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT) di gelaran car free day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Minggu (3/11). Fenomena itu mendorong personel penegak perda meningkatkan pengawasan di tempat-tempat keramaian.

"Kami mendapatkan keluhan dari warga maraknya PGOT beroperasi di CFD. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan razia," ujar Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Agus Sis Wuryanto, Senin (4/11).

Menurutnya, PGOT tersebut diamankan saat meminta-minta uang ke pengunjung CFD. Kondisi tersebut menyebabkan pengunjung resah. “Mereka (PGOT) orang lama dan bukan KTP Solo. Sudah kerap tertangkap. Mereka dibina dan dikembalikan ke daerah asal. Kegiatna serupa akan terus dilakukan baik di CFD, alun-alun, maupun ruang publik lainnya," beber Agus Sis.

Salah seorang pengunjung CFD Jalan Slamet Riyadi, Wati menuturkan, cukup banyak pengemis di CFD. “Ya sedikit membuat kurang nyaman. Takutnya kalau mereka mau mengambil sampah malah keliru memungut barang yang masih dipakai untuk dagang karena dikira sampah," ujar dia.

Aktivitas PGOT juga dikeluhkan salah seorang pedagang Sekaten. "Di Alun-Alun Utara maupun Selatan kalau pas Sekaten seperti ini biasanya banyak. Kadang aktivitas membuat risih," terang Agnes Kusuma, pedagang jagung manis di Alun-Alun Selatan.

Dituturkannya, PGOT datang bersamaan pada hari tertentu. Ketika salah seorang PGOT diberi uang, giliran lainnya datang meminta-minta. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia