Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Dua Sumur Kering, Produksi Batik Tersendat

05 November 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

DAMPAK KEMARAU: Produksi batik di Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo ini terpaksa berhenti karena tidak ada pasokan air setelah sumur mengering.

DAMPAK KEMARAU: Produksi batik di Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo ini terpaksa berhenti karena tidak ada pasokan air setelah sumur mengering. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO –  Kemarau panjang berdampak pada produksi batik di Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo berhenti. Air di dua sumur mengering sehingga proses pencucian dan pencelupan batik tersendat. Dampaknya, karyawan terpaksa diliburkan.

Salah satu yang terkena dampak ini adalah produsen batik Adibusana, Bekonang. Pegawai sekaligus pengawas batik di tempat itu, Sukamto mengatakan, 12 karyawan bagian pecucian dan pencelupan terpaksa diliburkan sejak kemarin (4/11). Kondisi ini dipicu tidak ada air untuk produksi setelah dua sumur utama yang selama ini jadi andalan mengering.

“Hari ini libur karena sumber air kecil. Padahal sehari kami membutuhkan 4 ribu liter air untuk pencucian dan pencelupan batik,” terangnya.

Pembuatan batik selama ini mengandalkan dua sumur tersebut. Penyusutan sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Selama ini proses pencucian dan pencelupan baru bisa dilakukan dengan menunggu air banyak atau ditandon lebih dulu.

“Baru hari ini air tidak mencukupi, bahkan sampai mengering. Padahal, proses pencelupan dan pencucian harus dilakukan berulang-ulang dan airnya harus diganti terus agar tidak berpengaruh pada warna,” katanya.

Sukamto mengaku baru kali ini air sumur dengan kedalaman 20 meter ini sampai mengering. Diduga ini merupakan imbas dari kemarau panjang. Pihaknya lantas membuat sumur tancap yang lebih dalam agar proses produksi berjalan normal kembali.

Pengusaha batik setempat, Sri Rahayu Maimunah membenarkan jika pihaknya terpaksa meliburkan karyawannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dia lekas membuat sumur baru dengan kedalaman sekitar 70-80 meter.

“Terpaksa kami liburkan dua hari. Karena diperkirakan Selasa (5/11) sore sumur sudah jadi. Semoga Rabu bisa produksi lagi,” ungkapnya.

Dia mengaku dalam pencucian batik air harus mengalir. Sehingga air yang dibutuhkan cukup banyak. Sebab, dalam sehari dia bisa mencuci dan mencelup sekitar 100 kain batik.

“Sabtu (2/11) masih mencukupi airnya. Baru hari ini air tidak keluar. Makanya kami langsung buat sumur tancap. Kalau tidak air susah nanti. Karena prosesnya harus dicuci dan dicelup,” ujarnya. (rgl/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia