Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Pembatasan Jerikan Gagal Dongkrak Pertamax

05 November 2019, 14: 22: 10 WIB | editor : Perdana

SEDERHANA: Pom mini di Kecamatan Selo, Boyolali.

SEDERHANA: Pom mini di Kecamatan Selo, Boyolali. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – PT Pertamina (Persero) membatasi pembelian bahan bakar minyak (BMM) jenis Pertalite dengan jeriken. Alasan utama karena safety. Serta mengakomodasi kalangan UMKM, petani, dan nelayan. Dengan catatan ada surat rekomendasi dari dinas terkait.

Alasan lainnya, agar mampu mendongkrak pembelian BBM jenis Pertamax. Karena pembelian Pertamax dengan jeriken masih dilayani di SPBU. Meski tanpa surat rekomendasi.

Senior Supervisor Communication PT Pertamina MOR IV Jawa Tengah Arya Yusa Dwicandra mengaku pembatasan pembelian Pertalite dengan jeriken belum menunjukkan data signifikan pada penjualan Pertamax.

“Secara porsi penjualan, Pertalite masih tinggi di angka 70 persen. Kemudian Pertamax 8 persen, premium 15 persen, dan produk lainnya 7 persen,” tandasnya, kemarin (4/11).

Diakui Arya, kebijakan pembelian Pertamax cukup longgar. Masyarakat masih bisa membeli dengan jeriken. Asalkan tidak ada antrean panjang di SPBU. Jika antrean panjang, petugas SPBU diminta mendahulukan konsumen pengguna kendaraan. Kendati demikian, Arya menegaskan pembelian BBM dengan jeriken tidak dibenarkan. 

Sementara itu, Yanto, 45, pengecer BBM di Kota Solo mengeluhkan aturan ketat pembelian Pertalite dengan jeriken. Dia mengaku omzetnya turun drastis. Sebab dia hanya bisa mengecer Pertamax. Per liter diecer Rp 10.500.

“Penjualan jelas menurun karena kebanyakan konsumen carinya Pertalite. Lebih murah. Dulu saat masih bisa jual Pertalite, sehari bisa 20-30 liter. Sekarang hanya bisa jual Pertamax. Sehari 10 liter sudah bagus,” keluhnya. (gis/fer) 

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia