Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Siti Restamti, Daur Ulang Kaleng Bekas Jadi Ladang Bisnis Kreatif

06 November 2019, 13: 28: 38 WIB | editor : Perdana

UNIK: Siti Restamti dan barang hasil produksinya dipajang di rumahnya Ngemplak, Boyolali.  

UNIK: Siti Restamti dan barang hasil produksinya dipajang di rumahnya Ngemplak, Boyolali.   (ZALUL LINA RACHMAWATI/RADAR SOLO)

Share this      

Sampah kaleng bagi sebagian orang masih dianggap sebagai masalah lingkungan. Berbeda dengan Siti Restamti, 35. Sampah kaleng ini malah menjadi ladang bisnis menggiurkan. Ragam produk unik dari kaleng bekas ini kini banyak diminati.

ZALUL LINA RACHMAWATI, Boyolali, Radar Solo 

KALENG-kaleng bekas itu kini berubah menjadi produk unik dan cantik. Ada gambar lukisan tokoh-tokoh animasi anak hingga pemandangan. Semua tertata rapi di rak rumah Siti Restamti di Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Rumah ini sekaligus menjadi tempat produksi.

Terjun ke bisnis ini dimulai dari hobi Siti Restamti yang hobi melukis sejak kecil. Dia lalu memanfaatkan media yang bisa digunakan untuk menyalurkan hobinya ini. Salah satunya kaleng bekas yang banyak dijumpai di lingkungan sekitarnya. 

“Sekalian daur ulang sampah. Jadi bisa mereduksi sampah di lingkungan sekitar. Selain unik dan awet, produk dari kaleng ini ada fungsinya, jadi tidak hanya dipajang saja,” ujarnya.

Ada aneka produk yang dihasilkan berupa tempat pensil, celengan, tempat snack, nampan, toples, jam dinding hingga tong sampah. Tapi, bukan sembarang kaleng bisa dimanfaatkan. Siti tetap memasang standar kualifikasi agar hasilnya optimal.

Selain kondisi kaleng masih bagus, juga tidak rusak atau berkarat. Kaleng-kaleng bekas ini hanya khusus buat pajangan. Sedangkan untuk tempat snack seperti toples, Siti menggunakan barang baru yang dilukis. Ini demi menjaga higienitas tempat dan makanan. “Kan kalau buat tempat snack gak mungkin dari kaleng bekas. Malah bisa berbahaya,” ujarnya.

Konsumen biasanya membeli atau memesan produknya untuk keperluan suvenir pernikahan, ulang tahun, maupun hadiah wisuda. Mereka berasal dari Solo dan sekitarnya.

Usaha yang mulai dirintis sejak 2011 ini awalnya belum banyak mendapat respons baik dari masyarakat. Bahkan, sampah-sampah ini masih dipandang sebelah mata. Namun, Siti Restamti tak putus asa. Berkat dukungan orang terdekat dia terus berusaha mengembangkan usaha tersebut. Hingga kini mendapat respons balik dari masyarakat.

Kini Siti tidak hanya fokus produksi, namun juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Dia juga pernah bekerjasama dengan tempat pembuangan umum (TPU) di daerah Pajang, Laweyan, Surakarta untuk memberikan pengetahuan akan pentingnya memanfaatkan barang bekas menjadi barang berkualitas. 

“Saya sering beri pelatihan-pelatihan bagaimana memilah sampah agar bisa dimanfaatkan kembali dan tidak mencemari lingkungan,” terangnya.

Selain dijual secara offline di rumahnya, produk-produknya ini dijual secara online melalui media sosial. Kini produknya sudah merambah pasar luar Pulau Jawa, seperti Tarakan, Kalimantan Utara dan Palembang, Sumatera Selatan. (*)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia