Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

UMKM Keluhkan Rumitnya Urus Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga

06 November 2019, 19: 06: 37 WIB | editor : Perdana

SYARAT WAJIB: Industri ikan nila di Ponggok, Polanharjo, Klaten. Industri rumahan didorong urus izin PIRT.

SYARAT WAJIB: Industri ikan nila di Ponggok, Polanharjo, Klaten. Industri rumahan didorong urus izin PIRT. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kebingungan mengurus sertifikasi halal. Khususnya yang bergerak di sektor kuliner rumah tangga, restoran, catering, maupun jasa boga. Sebab kewenangan sertifikasi halal sudah berpindah tangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). 

Ketua Forum UMKM Surakarta Rony Prasetyo mengaku sosialisasi Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) belum menyeluruh. Selain itu prosedur pengurusan sertifikasi cukup rumit. Dia berharap pemerintah ambil bagian dalam memberi kemudahan.

“Terkait tempat produksi yang jadi satu dengan tempat tinggal itu menurut saya wajar. Karena teman-teman ini kan masih usaha rumahan. Modal dan income masih kecil. Namun teman-teman pasti juga berusaha untuk menjaga higienistas produk. Kami berharap pendampingan pemerintah terus dilakukan sampai teman-teman dapat sertifikat,” ujarnya, kemarin (5/11).

Sementara itu, Staf Bidang Fasilitas Layanan Kesehatan dan Peningkatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Surakarta Indaryanti mengaku rata-rata per bulan ada lima pengajuan PIRT. Terutama industri rumah tangga yang memproduksi makanan kering. Dikemas dengan masa simpan lebih dari seminggu.

“Setelah mengajukan berkas, teman-teman ini harus mengikuti pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) terkait keamanan pangan. Beberapa materi kami berikan seputar itu. Setiap bimtek peserta yang ikut 30 orang. Setelah itu mereka mendapat nomor rekomendasi sertifikasi laik sehat. Kemudian kami lakukan pemeriksaan lokasi produksi,” terang Indaryanti.

Menurut Indaryanti, pelaku industri rumah tangga sudah mulai memikirkan sanitasi dan lokasi produksi. Meski menjadi satu dengan rumah tinggal. Namun alangkah baiknya dibuat sekat-sekat. Ini dilakukan untuk meminimalkan kontaminasi silang bakteri. “Selain itu juga syarat lulus penerbitan sertifikat produk pangan IRT (SPP-IRT). (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia