Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Radikal LaVani

07 November 2019, 05: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Radikal LaVani

Oleh: Dahlan Iskan

SAYA ini boleh dibilang golongan radikal: melayat kok begitu telat. Saya baru melayat setelah almarhumah dimakamkan lebih lima bulan sebelumnya.

"Nyuwun duko," kata saya kemarin malam --saat saya menyalami suami almarhumah. Nyuwun duko. Itu tidak bisa diartikan sebagai sekadar minta maaf. Arti harfiah "nyuwun duko" adalah "minta agar diberi marah."

Itulah orang Jawa. Atau budaya Jawa. Kalau merasa berbuat salah --yang keterlaluan-- tidak cukup sekadar minta maaf. Harus sampai minta dimarahi. "Nyuwun duko, Pak,” kata saya mengulangi. 

"Gak apa-apa. Saya tahu Pak Dahlan lama di luar negeri," ujar beliau --sambil merangkul saya. "Waktu almarhumah dirawat di Singapura, Pak Dahlan kan sampai menengok dua kali," tambah beliau. 

Kemarin malam saya memang ke Cikeas. Melayat. Sangat telat. Dulu, saat Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia, saya lagi di Amerika. Lalu harus ke Tiongkok. Ke beberapa negara lainnya lagi. Sambung ke Inggris. Baru ketemu istri sendiri di Hangzhou. Diajak pulang.

"Nyuwun duko," kata saya lagi --sambil cipika-cipiki. Lalu saya tinggalkan HP di teras. Kemudian diajak duduk di meja rapat --di ruang depan. Ruang itu tidak asing bagi saya. Sudah sering saya diterima beliau di situ. Dulu. Saat masih menjadi sesuatu.

"Nyuwun duko," kata saya lagi --setelah duduk di kursi. Kami hanya berdua. Sunyi. Di luar rumah cuaca dingin. Hujan baru reda. Waktu berjalan dari pendapa ke kediaman ini pun beberapa tetes hujan masih tersisa. 

"Kami kaget Bu Ani meninggal begitu cepat. Mungkinkah tim dokter terlalu agresif?" celetuk saya.

Pak SBY terdiam agak lama. Lalu menarik nafas panjang. "Tidak juga, Pak Dahlan," katanya lirih. "Semua sudah sesuai dengan protokol penanganan kanker darah," ujar beliau. 

Di samping ditangani tim dokter Singapura, dua tim dari Amerika juga didatangkan. Untuk melakukan review. Hasilnya: apa yang dilakukan di Singapura sudah betul. Mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Saya tidak meneruskan pertanyaan itu. Padahal begitu banyak yang ingin saya tanyakan seputar masa sakitnya Ibu Ani. Sebagai sesama penderita kanker. Saya harus tahu. Soal itu masih sangat sensi. Saya melihat Pak SBY masih begitu sedih. Wajahnya masih penuh duka. Pun setelah lima bulan berlalu.

Wajah beliau masih sangat sedih. Karena itu, beliau tidak lagi tinggal di Kuningan. Rumah Kuningan penuh dengan kenangan masa-masa akhir dengan Ibu Ani.

Itulah rumah yang diberikan negara. Untuk seorang mantan presiden. Tiga tahun penuh Pak SBY pindah ke rumah itu. Hanya berdua dengan Ibu Ani. Acara tidak sepadat waktu menjabat presiden. Ibaratnya di rumah baru itu beliau seperti pengantin baru lagi. Banyak waktu yang dihabiskan hanya berdua. 

Rumah itu sekarang dibiarkan kosong dulu. Hanya ada penunggunya saja. Pak SBY kembali tinggal di Desa Cikeas. Yang sudah masuk wilayah Bogor. Malam itu, saya perlu waktu 1,5 jam untuk bisa sampai di sana. Dari rumah saya di SCBD Jakarta. 

"Di sini lebih tenang," ujar Pak SBY lirih. "Saya belum ke mana-mana. Di rumah ini saja," tambahnya.

"Tidak ingin ke luar negeri?” tanya saya.

"Jangankan ke luar negeri. Ke kota lain pun belum bisa. Bayangan Ibu Ani masih ikut terus. Ke mana pun saya pergi pasti ada kenangan dengan Ibu Ani," ujar beliau.

Saya tahu betapa menyatu Pak SBY dengan istrinya. Bukan hanya untuk masa yang panjang. Bukan hanya serasi. Tapi juga sangat intens. Intensitas hubungan itu begitu tinggi. Pun dalam masalah politik.

"Baru minggu depan terpaksa harus ke Bandung," ujar beliau. "Pak Hatta terima gelar doktor dari ITB," tambah beliau. Hatta Rajasa adalah besan. Juga menteri. Di masa kabinet beliau. Termasuk menjabat menko perekonomian.

"Di Bandung nanti saya minta dicarikan hotel yang tidak ada kenangan dengan Ibu Ani," ujar beliau.

Saya pun tidak mau menambah kesedihan beliau. Mungkin bicara politik lebih bisa mengalihkan kesedihan itu. Maka saya pun memulai bicara politik. 

Mulai dari mengapa Mas Agus berhenti dari dinas ketentaraan --saat pangkatnya masih mayor. Agus Harimurti Yudhoyono adalah anak sulung beliau. Yang sangat pandai. Ganteng. Lulusan Akmil terbaik.

Karir militernya lancar. Mestinya akan bisa mencapai pangkat jendral. Tapi baru di mayor sudah memutuskan berhenti. Saya ingin tahu cerita panjangnya. Siapa yang berinisiatif untuk berhenti. Meski tidak untuk saya tulis.

Termasuk saya tanyakan juga: mengapa Mas Agus itu tidak langsung saja jadi ketua umum Partai Demokrat. Toh sudah nekat hanya akan terjun ke politik. Tentu saya juga bertanya soal mengapa tidak jadi gabung ke koalisi. Cerita panjangnya seperti apa.

Pokoknya apa saja saya tanyakan. Termasuk yang agak sensitif: mengapa Ibu Megawati Soekarnoputri masih belum bisa menerima penggabungannya. Terutama apakah betul begitu.

Hanya satu yang saya tidak berani menanyakan: mengapa berat badannya tidak turun-turun. Saya khawatir pertanyaan seperti itu hanya akan menambah kesedihan beliau. 

Dan lagi, berat badan saya sendiri kini naik 3 kg. Gara-gara 12 hari di Xinjiang. Lemak dari kambing pantat besar di sana ada yang ikut ke darah saya.

Satu jam sudah kami berbincang. Tiba-tiba ada suara anak kecil. Sendirian. Dari arah dalam. Lari-lari. Mendekat ke arah Pak SBY. Anak kecil itu termangu melihat saya. Lalu menempel ke pangkuan beliau. Sambil seperti mau mengambil kue di depan saya.

"Yang ini saja," kata Pak SBY kepada cucunya itu. Sambil menyodorkan kue di depan Pak SBY. Setelah menerima kue itu sang cucu lari ke dalam lagi.

Itulah Pancasakti Maharajasa Yudhoyono. Putra kedua Mas Ibas --Edhie Baskoro Yudhoyono, adik Mas Agus. Cucu seperti itulah yang kini jadi penghibur hati beliau. Ibas dan keluarganya kini ikut tinggal di Cikeas --menemani sang ayah.

Sebagai intelektual, Pak SBY tahu kesedihan jenis apa yang sedang dialaminya sekarang ini. Yakni masa sulit setelah ditinggal istri tercinta. Beliau sengaja membaca beberapa buku yang membahas 'masa-masa sulit' seperti itu. Juga membaca beberapa artikel terkait.

Beliau optimistis masa sulit itu akan bisa diatasi. Pada saatnya. Hanya perlu waktu. Semua orang mengalaminya. Itu sangat manusiawi. Ada yang bisa teratasi dalam sebulan. Setengah tahun. Ada yang perlu satu tahun. Bahkan ada yang harus sampai satu setengah tahun.

Pak SBY kelihatannya tergolong yang terberat itu. Sudah hampir lima bulan pun masih seperti itu. Padahal dulu begitu tegarnya. Sudah satu setengah jam kami berbincang. Saya melirik ke jam dinding. 

"Mungkin banyak tamu bapak yang antre," kata saya. 

"Malam ini saya kosongkan untuk Pak Dahlan," jawab beliau. 

Baru satu jam kemudian saya pamit. Kembali melewati pendapa di sebelah rumah. Yang ada halaman luas di depannya. Yang dulu sering dipakai pertemuan umum. 

"Apa yang berubah di halaman ini ya?” tanya saya pada diri sendiri. Tidak ada lagi mobil yang parkir di situ. Semua mobil parkir di luar halaman. Halaman itu kini jadi lapangan voli. Ada net yang masih terpasang rapi.

"Sore tadi ada pertandingan antar dapil," ujar petugas di situ. Ternyata ada kompetisi voli di lingkungan partai. Antardaerah pemilihan. Karena itu lapangan voli tersebut dirawat dengan baik. 

Saat saya melewatinya, lapangan itu ditutup terpal. Rapi. "Tadi kan hujan. Agar lapangan tidak becek," ujar petugas itu.

Lapangan voli itu juga bisa diubah jadi lapangan futsal. Ada net yang bisa ditarik mengelilingi halaman. Menjadi dinding. Ada rel untuk tempat 'dinding' itu bergantung.

Di sebelah lapangan voli itu ada lapangan badminton. Yang juga bisa diubah menjadi lapangan basket. Ada net badminton di situ. Juga ring basket. Pak SBY selalu menonton pertandingan di situ. Beliau duduk di tribun kecil yang cukup untuk delapan orang. 

Di belakang tribun itu ada baliho cetak. Tulisan di baliho itu berbunyi: LaVani Sports Center. Baliho itu dipasang setelah 40 hari Ibu Ani meninggal dunia. Arti tulisan itu yang sangat spesial: Love Ani. (*)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia