Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Waduk Mulur Kering Kerontang, Karamba Terbengkalai

08 November 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Perdana

PALING PARAH: Kondisi air Waduk Mulur di Bendosari, Sukoharjo menyusut drastis karena dampak kemarau panjang tahun ini.

PALING PARAH: Kondisi air Waduk Mulur di Bendosari, Sukoharjo menyusut drastis karena dampak kemarau panjang tahun ini. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Kondisi Waduk Mulur di Bendosari, Sukoharjo makin memprihatinkan pada musim kemarau ini. Air waduk yang berfungsi untuk irigasi itu mengering. Tinggal menyisakan beberapa titik genangan air. Bahkan ketinggian air tidak lebih dari selutut.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispernakan) Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan, Waduk Mulur memang difungsikan sebagai penampung air untuk irigasi persawahan. Dan memang ada kelompok kecil petani ikan.

“Kemarau kali ini memang yang terparah. Karena kemaraunya cukup panjang dan hujan sudah tidak turun sejak Mei. Dan Oktober - November ini paling parah,” katanya. 

Akibat air yang menyusut tersebut, sebagian besar tanah Waduk Mulur merekah. Meski masih ada air, namun tidak mencukupi untuk mengairi sawah yang sebagian besar disalurkan ke Kecamatan Bendosari dan Sukoharjo.

Terkait petani ikan karamba, Netty telah memberi pembinaan kepada mereka. Petani ikan harus bisa memprediksi debit air ketika ingin beternak ikan. Sebab, kondisi air memang terus mengalami penyusutan ditambah cuaca sangat panas. “Kalau air menyusut harus produksi berapa ikan,” imbuhnya.

Di waduk seluas 120 hektare ini terdapat beberapa petani ikan yang tergabung dalam kelompok kecil. Ada sekitar 20 kelompok yang memiliki karamba. Pihaknya telah memberikan warning terkait kemarau panjang ini. Sehingga kekeringan tidak sampai menyebabkan banyak ikan mati seperti di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.

“Waduk Mulur prinsipnya untuk irigasi pertanian. Meski ada beberapa petani karamba. Namun, Waduk Mulur itu kewenangannya masih di provinsi. Termasuk wacana pengerukan dan lainnya kami terkendala kewenangan. Pemkab juga kesusahan mau membuat kebijakan di Waduk Mulur,” ujarnya.

Ketua Kelompok Kina Makmur Catur Joko Prayitno mengatakan, kekeringan tahun ini paling parah. Jika tahun lalu satu karamba bisa terisi 3 ribu ikan. Saat ini hanya bisa diisi 300 sampai 700 ikan saja.

“Ada sekitar 18 petani ikan dengan 400 karamba berbagai ukuran. Kekeringan sudah terasa sejak dua bulan terakhir. Sekarang airnya maksimal hanya 1,5 meter,” katanya.

Minimnya air ini membuat pertumbuhan ikan menjadi lambat. Ikan kepanasan karena air terbatas. Pemberian pakan pun hanya dilakukan sehari sekali. Jika diberi dua kali ikan akan kekenyangan dan mati.

“Jadinya pertumbuhan ikan kurang maksimal dan panen mundur. Alhasil antara pakan ikan dengan panen tidak seimbang dan petani merugi. Mau panen sekarang susah. Bobot ikan jadi menyusut semua,” katanya.

Joko mengaku idealnya dia bisa meraih untung Rp 10 - Rp 15 juta perhari. Ikan jenis nila di Karamba Waduk Mulur dijual hingga keluar daerah seperti Jogjakarta dan Solo. Dan sebagian dijual ke warung makan di sekitar Waduk Mulur.

“Harapannya ada pada pengerukan waduk. Terakhir pengerukan 1998. Karena Waduk Mulur termasuk tadah hujan dan mengandalkan air dari aliran kali Jelantah,” ujar. (rgl/bun

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia