Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Menelusuri Sejarah Persis Solo: Beda Persepsi Itu Hal Biasa

08 November 2019, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Skuad Persis Solo pada 1968. Di musim ini etnis Tionghoa dan polisi masih mendominasi komposisi tim

Skuad Persis Solo pada 1968. Di musim ini etnis Tionghoa dan polisi masih mendominasi komposisi tim (REPRO NIKKO AUGLANDY)

Share this      

SOLO - Bicara soal sejarah klub sepak bola, ternyata perlu banyak riset dilakukan untuk mengungkap sebuah topik yang tengah dicari informasinya. Baik dari sisi tanggal berdiri, kiprah klub, hingga drama yang sempat terjadi beberapa tahun lalu.

Beda persepsi bisa saja muncul. Salah satunya tentu saja pada kepastian tanggal lahir Persis Solo. Banyak pihak berpegangan tanggal 8 November 1923. Walaupun data yang ada membuat persepsi tersebut sedikit bercabang.

Sejarawan bola asal Bandung Novan Herfiyana mengakui memang tak mudah untuk merangkai sebuah sejarah. Salah satu kendalanya tentu saja dari sisi literasi yang tak semua catatan sejarah bisa terekam. ”Modal utamanya tentu bisa kita dapatkan dari koran-koran yang perneh beredar di tahun tertentu, yang menuliskan tentang sepak bola. Sepak bola termasuk topik yang banyak diberitakan karena olahraga ini sejak sebelum Indonesia merdeka pun sudah digandrungi masyarakat,” ucapnya. 

Penulis buku Persib Undercover tersebut kurang begitu paham secara detail tanggal lahir Persis. ”Saya kurang tahu tanggal lahir Persis. Yang saya tahu mungkin informasi terkait tim ini adalah salah satu pendiri PSSI dan sebelum Indonesia merdeka, Persis merajai kompetisi PSSI,” terang pengisi data di website RSSSF tersebut. 

Dia paham bahwa persepsi soal tanggal lahir memang banyak bermunculan di beberapa klub. Tak hanya klub yang tua, klub yang berdiri setelah Indonesia merdeka pun banyak yang masih mendebatkan soal tanggal lahir klub kebanggaannya.

Dia mencontohkan di Persib Bandung saja masih ada yang berpendapat beda. Pendiri PSSI dari Bandung, yakni Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) adalah Persib. Yang sejatinya Persib mendeklarasikan diri berdiri tahun 1933. Atau tiga tahun setelah PSSI berdiri.

”Dalam mendata hasil kejuaraan saja kadang sering muncul persepsi berbeda. Di tahun sebelum Indonesia merdeka, kadang menuliskan dengan nama kota. Dan perlu pendalaman lagi, itu klub milik pribumi atau milik klub Belanda. Jelas klubnya berbeda,” ujarnya.

”Belum lagi kadang ada koran lama yang menuliskan kurang lengkap. Seperti klub ini juara di tahun tersebut. Banyak yang langsung mengutarakan ini juara tingkat nasional, ternyata aslinya itu baru tingkat regional. Tentu pendalaman datanya harus ditambah beberapa refrensi dari media lainnya yang sejaman,” tuturnya. 

Dia mencontohnya, di media sosial hingga internal tercatat Persis terakhir juara tahun 1948. ”Jelas ini salah. Setahu saya di tahun tersebut PSSI masih vakum, baru 1950 kembali dihidupkan. Bisa jadi itu hasil klub Solo di kompetisi PORI (nama awal KONI) atau hasil PON pertama di Solo,” jelasnya. 

Di lain sisi, manajemen Persis direncanakan akan mengadakan agenda akbar untuk perayaan ulang tahun Persis ke-96. Malam ini rencananya malam ini (8/11) akan diadakan pengajian akbar di Pura Pamedan Mangkunegaran. Acara akan dilanjutkan, Sabtu (9/11) sore di Lapangan Kottabarat. Akan digelar fun Football antara manajemen Persis, legenda Persis U-40, PWI Solo dan suporter Persis.

Closing ceremonial akan bertajuk Persis Fest. Yang digelar Minggu(10/11) mulai pukul 9-17.00 di Benteng Vastenburg. Disini akan beberapa band dari Pasoepati, Surakartan dan guest star lainnya. Mulai dari Om Balelo, The Working Class Symphony, Om Bapershop hingga Zulham. (nik/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia