Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Pernah Torehkan Sejarah Besar, Catatan Tahun Juara Persis Simpang Siur

08 November 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Balai Persis masih menyimpan koleksi piala tertua, dengan tulisan Klaten 3-9-23 di badan piala berbentuk cangkir

Balai Persis masih menyimpan koleksi piala tertua, dengan tulisan Klaten 3-9-23 di badan piala berbentuk cangkir (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Mengupas tentang sejarah Persis Solo memang banyak versi yang muncul, yang membuat perdebatan sering terjadi. Setiap pemahaman tentu punya pegangan yang belum tentu salah satu pihak mengakuinya.

”Saat Jepang datang, PSSI dibekukan. Dan muncul yang namanya Tai Iku Kai bentukan Jepang. Jadi harusnya catatan juara (Persis, Red) tahun 1942 dan 1943 itu tak masuk hitungan. Sepertinya terakhir kompetisi PSSI itu terjadi tahun 1941,” ucap pemerhati sejarah sepak bola Abdillah Afiif.

Adapun PSSI mencatat, Persis menjadi juara kompetisi sebelum Indonesia merdeka sebanyak tujuh kali. Yakni pada 1935, 1936, 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943. Afiif yang juga pendiri Abidin Side dan sempat menelurkan buku Gue Persija mengakui, Persis termasuk klub yang punya historis cukup besar di Liga Indonesia.

Sebelum Indonesia merdeka, Persis sering juara. Salah satu bintang lapangan kala itu adalah R. Maladi yang sebelumnya bergabung dengan PSIM Jogja (1931-1933). Afiif juga tidak sependapat dengan catatan sejarah yang menuliskan timnas pertama PSSI tahun 1937, saat melawan Nan Hwa di Semarang.

Saat itu, ada delapan pemain Persis yang bertandang melawan klub asal Tiongkok tersebut. Mulai dari Yazid, R. Maladi, Sarjan, Soemaryo, Soewarno, Sukemi, dan Hoetoro. Tim ini ditambah Djawad (PSIM Jogjakarta) dan tiga pemain asal Cirebon yakni Ahoed, Soetrisno dan Moestaram. “Lebih tepat ini disebut Tim Djateng-DIY, bukan timnas. Soalnya tidak mencakup semua wilayah di Indonesia,” ujarnya. (nik/ria)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia