Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Semangat Aktivitas di Luar Kelas

08 November 2019, 14: 12: 29 WIB | editor : Perdana

RIANG: Murid-murid SD memainkan permainan tradisional pada kegiatan outdoor classroom day kemarin (7/11).

RIANG: Murid-murid SD memainkan permainan tradisional pada kegiatan outdoor classroom day kemarin (7/11). (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Gerakan dunia satu hari belajar di luar kelas atau outdoor classroom day dilakukan serentak di seluruh sekolah di Indonesia kemarin (7/11). Kegiatan ini untuk memeringati Hari Anak Internasional. 

Sesuai edaran, ada 17 jenis kegiatan yang dilakukan dalam waktu sehari. Meliputi perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Dilanjutkan dengan sarapan sehat bersama. Mereka membawa bekal makanan dari rumah, kemudian duduk rapi berjajar dan saling berhadapan. Setelah diingatkan adab makan dan berdoa sebelum makan, mereka menikmati bekal sarapan sehat dari rumah. Penguatan karakter keimanan dilakukan dengan cara pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah makan.

Karakter cinta lingkungan dilakukan dengan cara menyingkirkan barang-barang yang berbahaya bagi kawasan sekitar. Selain itu, kegiatan pembiasaan peduli penggunaan listrik. Misalnya mematikan lampu, kipas angin, atau pun kran.

Para siswa bertambah antusias ketika dilaksanakan kegiatan pelestarian dolanan tradisional. Ada lompat tali, dakon, bekelan, engklek, jamuran, gangsingan, dan lainnya. 

“Hari ini (kemarin) banyak kegiatan yang menyenangkan. Aku bermain dakon sama teman-teman. Juga saat sarapan bersama-sama di sekolah. Jadi asyik bersekolahnya,” terang Rona Mazaya, murid kelas 3 SDIT Nur Hidayah.

Kepala sekolah setempat Waskito menuturkan, selain memeringati Hari Anak Internasional, kegiatan sehari belajar di luar kelas ini sebagai salah satu implementasi bahwa sekolahnya merupakan sekolah ramah anak (SRA).

“Selain itu juga upaya mengantarkan anak-anak mencapai kompetensi yang diharapkan, khususnya dalam rangka penguatan karakter peserta didik,” sambungnya.

Kegiatan serupa juga dilakukan murid SMPN 8 Surakarta. Mereka memanfaatkan hasil pengelolaan lingkungan, antara lain tanaman dan kolam. Nangka muda atau gori yang tumbuh di depan sekolah diolah menjadi sayur lodeh, sedangkan lauknya lele yang dipelihara di kolam sebelah selatan ruang aula dan sebelah timur Masjid Al Falah SMPN 8 Surakarta.

“Kami mendukung dengan adanya sekolah ramah anak ini. Hal ini bisa memberikan suasana baru bagi guru dan siswa, bahkan semua warga sekolah. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini bisa menambah inspirasi dan motivasi,” terang kepala SMP setempat Triad Suparman.

Deklarasi sekolah ramah anak ini antara lain bertujuan memberikan perlindungan pada diri siswa sebagai anak di sekolah dengan mengutamakan hak-hak anak yang meliputi hak hidup, hak tumbuh berkembang, hak perlindungan, dan hak mendapatkan pendidikan. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia