Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kartika Cahyo, Entrepreneur Muda Angkat Potensi Lokal 

09 November 2019, 14: 47: 28 WIB | editor : Perdana

Kartika Cahyo, Entrepreneur Muda Angkat Potensi Lokal 

Jatuh bangun menghadapi himpitan ekonomi, tidak membuat Kartika Cahyo, 37, menyerah. Berkat keuletan dia dengan didukung suami, akhirnya dia bisa keluar dari ujian itu dan bisnisnya terus meroket.  Seperti apa kisahnya?

RAGIL LISTIYO, Sukoharjo, Radar Solo

KARTIKA melempar senyum ketika ditemui Jawa Pos Radar Solo di butiknya di Jalan Semeru 8C Madyorejo, Jetis, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. Sesekali dia menunjukkan kain batik bermotif cengkeh dan tanaman pala buatannya. Kain hasil karyanya ini dibuat untuk salah satu pembeli asal Maluku.

“Saya senang sekali dengan batik. Dan membatik bagi saya merupakan sebuah hobi,” terangnya, Jumat (8/11).

Di tengah kesibukannya bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Bagian Pemerintah Desa Setda Sukoharjo, Kartika masih menyempatkan diri mengurus butiknya. Perjalanan dia membangun usaha tidak serta merta sukses. Pandangan miring dari kolega maupun tetangga pernah dialami.

“Saya merintis jualan batik sejak 14 tahun silam. Jualannya masih bawa batik dan menawarkan dari kantor ke kantor. Saya telateni itu,” katanya.

Ketika itu suaminya ingin mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Kartika sempat bingung. Sebab, kondisi keluarganya masih menanggung beban agunan bank. Bahkan dia sempat meminta pinjaman uang dari beberapa temannya. Namun, tidak ada yang membantu.

“Saat itu semua tabungan dan asuransi saya kumpulkan. Ternyata masih kurang. Hingga akhirnya ada salah satu teman yang mau meminjami saya uang,” katanya.

Bersama suami, Kartika mulai merintis usaha online. Berkat kuliahnya di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), dia memiliki jaringan teman luas dari berbagai daerah. Peluang itu dia memanfaatkan untuk memasarkan produknya.

“Setelah lulus dari STPDN ada keinginan konsisten jualan batik saja. Baru setelah suami resign kami putuskan membuka butik. Dan terealisasi pada 2017,” katanya.

Baginya usaha batik itu susah-susah gampang. Apalagi sampai sekarang dia belum menemukan admin butik yang tepat. Sebab, mencari pegawai yang paham akan butik itu tidak mudah. Kini koleksi batiknya makin banyak. Baik batik hand printing, batik cap, batik kombinasi tulis, batik tulis sampai tenun.

Selain itu, batik buatannya telah dipasarkan ke seluruh Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Tidak jarang mereka memesan motif sendiri kepada Kartika. Justru kebanyakan dari kalangan pejabat di luar Jawa. Bahkan staf Kementerian RI pernah mengenakan batik buatannya.

“Saya juga buat batik tulis yang gambarnya itu custom atau pesenan. Jadi pelanggan bebas memilih motif, model maupun ukuran. Karena motifnya itu batik Solo Raya alias pakem batik saya tidak ada. Namun, khasnya karena motif bisa mengikuti keinginan customer,” imbuhnya.

Batik miliknya merupakan buatan tangan. Karena saat ini dia juga bekerja sebagai ASN, dia tidak bisa penuh mengurus butik. Namun, untuk mendesain gambar dan motif masih ditangani sendiri. 

Dalam sehari dia bisa mendapat pesanan lima sampai sepuluh paket. Harganya bervariatif. Dari puluhan ribu hingga jutaan. “Saya juga pernah mengalami kejadian kurang mengenakan. Ditipu konsumen. Barang sudah sampai pembeli, tapi uang tidak dikirim. Tapi prinsip saya kalau itu rezeki saya pasti bakalan dibayar,” ungkapnya. 

Ibu tiga anak yang hobi bermain tenis ini kini berhasil membuat brand batik sendiri. Pemasaran juga dilakukan secara online. Dan dia masih konsisten menyediakan batik di bagasi mobilnya.

“Model baju batik dan motif saya desain sendiri. Ada juga browsing dan permintaan customer. Dan semua menyenangkan saja buat saya. Ada kepuasan tersendiri ketika mendesain dan baju yang kita buat ternyata cocok dengan selera customer,” ujarnya. (*/bun

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia