Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Aplikasi Hots di Kelas Masih Lemah

09 November 2019, 15: 29: 04 WIB | editor : Perdana

Aplikasi Hots di Kelas Masih Lemah

SOLO – Banyak guru yang belum memahami penerapan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skill (Hots). Program yang dikembangkan sebagai upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan lulusan tersebut baru secara teoritis dipahami para pendidik.

Namun, dalam aplikasi rencana dan pelaksanaan pembelajaran (RPP) banyak yang belum mengaplikasikan secara maksimal.  Berangkat dari kondisi tersebut, dua dosen program studi (prodi) Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Nugraheni Eko Wardani dan Favorita Kuswidaria menggelar kegiatan pengabdian pada para guru Bahasa Indonesia, kemarin.  

Dalam agenda bertema Sosialisasi dan Pelatiham Pembelajaran Kurikulum 2013 berbasis metakognitif dan HOTS bagi guru MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) Bahasa Indonesia jenjang SMP itu, keduanya ingin guru mampu mengaplikasikan pembelajaran berbasis HOTS. 

“Para guru ini sudah diberikan pelatihan soal pembelajaran berbasis HOTS dan sudah tahu teorinya. Namun, dalam mengaplikasikan di pembelajaran masih sangat kurang. Sebab itu, kami memberikan sosialisasi dan pelatihan,” kata Nugraheni.  

Sesuai arahan Kemendikbud, pembelajaran bukan sekadar menghafal atau pemahaman teori. Namun, guru harus mampu mengarahkan siswa menganalisa dan mengevaluasi, sehingga mereka paham. Sekaligus mengasah siswa berpikir kritis dan kreatif sesuai tuntutan zaman. 

Nugraheni menyebut yang paling krusial adalah persoalan banyak guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak mampu membuat rubrik penilaian. Terutama untuk soal model esai. Hal itu menurutnya akan berpotensi merugikan siswa.

“Salah satu penyebabnya adalah kurangnya guru membaca dan meng-up-to-date pengetahuannya, sehingga mereka kebingungan. Inilah salah satu alasan mengapa guru harus terus belajar dan up-to-date kemampuan, " kata dosen prodi Bahasa Indonesia ini. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia