Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Slamet Riyadi Taklukkan Belanda di Usia 23 Tahun

10 November 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Slamet Riyadi Taklukkan Belanda di Usia 23 Tahun

LAHIR di Kota Solo, 26 Juli 1927, Slamet Riyadi telah banyak berkorban untuk tanah air. Itu pula yang mengantarkannya mendapat gelar pahlawan nasional dan Bintang Mahaputra pada 9 November 2007.

Disusul peresmian patung Slamet Riyadi pada 13 November 2007 di kawasan Gladak oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) kala itu Jenderal Djoko Santoso didampingi Wali Kota Surakarta Joko Widodo dan dihadiri ribuan warga.

“Peran Slamet Riyadi cukup vital dalam perjuangan kemerdekaan, maupun masa peralihan pemerintahan pasca kemerdekaan,” terang sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto, Sabtu (9/11).

Kepala program studi (Kaprodi) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sejarah ini menilai Slamet Riyadi merupakan tipikal orang yang tidak banyak bicara, namun nyata dalam bertindak. Termasuk dalam bidang pendidikan.

“Pendidikannya seperti orang pada umumnya. Di sekolah- bentukan Belanda. Karena ada Perang Dunia II, sekolahnya putus ditengah jalan. Namun kemudian dapat kesempatan lagi saat Jepang menduduki Indonesia. Slamet Riyadi masuk sekolah pelayaran tinggi bentukan Jepang,” kata dia.

Ketika tentara Jepang dan sekutu terlibat pertempuran sengit, Slamet Riyadi dan sejumlah pemuda eks pasukan pembela tanah air (Peta) bentukan Jepang mulai melancarkan pemberontakan. Mereka memelopori perebutan kekuasaan dari tangan Jepang di Solo, hingga Jepang menyerah pada sekutu.

“Karena kegigihannya itu, Slamet Riyadi diangkat sebagai Komandan Batalyon II Divisi X pada usia yang masih sangat muda pasca terbentuknya tentara keamanan rakyat (TKR),” jelas Susanto.

Divisi X kemudian berganti nama Divisi IV/Panembahan Senopati yang belakangan dikenal dengan Komando Pertempuran Panembahan Senopati dan memiliki lima brigade tempur. 

Di kesatuan ini Slamet Riyadi memimpin Batalyon XIV di bawah pimpimnan Letkol Suadi Suromiharjo. Sejarah mencatat batalyon yang dipimpin Slamet Riyadi kerap menyelesaikan berbagai persoalan di kota Solo. Sekaligus menjadi lawan utama pasukan Belanda yang berupaya menguasai kota Solo. Salah satunya pada pertempuran serangan umum di Kota Solo selama 4 hari, 7-10 Agustus 1949.

Slamet Riyadi yang kala itu sudah berpangkat sebagai letnan kolonel memimpin penyerangan terhadap Belanda. Salah satu strateginya adalah penyergapan dan sabotase. Antara lain membakar sejumlah aset bangunan seperti balai kota, Pasar Gede, Hotel Merdeka, dan lainnya agar tidak diambil alih oleh Belanda.

Akhirnya, Belanda mengakui ketangguhan Slamet Riyadi dan menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia pada 12 November 1949 di Sriwedari diwakili Kolonel Van Ohl kepada Letkol Slamet Riyadi.

“Kala itu Van Ohl menilai Slamet Riyadi bukan lawannya karena usianya yang masih sangat muda, 23 tahun kalau saya tidak salah. Mungkin kalau masih ada saksi hidupnya mereka bisa bercerita bagaimana sosok Slamet Riyadi. Melihat prestasinya, saya berani bilang beliau adalah sosok yang punya karisma, sangat disiplin, dan berwibawa tinggi,” bebernya.

Serangan umum empat hari di Kota Solo, lanjut Susanto adalah pertempuran pasca kemerdekaan pamungkas di Indonesia sebelum digelarnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. 

Jejak perjuangan Slamet Riyadi yang terakhir tercatat dalam penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) sekitar 1950. Dilansir dari laman sejarah-tni.mil.id, operasi militer yang diberinama Senopati itu berlangsung sejak 28 September hingga 2 November 1950 dengan misi membebaskan rakyat dari penindasan RMS. 

Dilanjutkan 3 November 1950 hingga bisa mengusai Pulau Ambon secara keseluruhan. Sayangnya, Slamet Riyadi tertembak di bagian perut kala hendak mengepung Benteng New Victoria. Slamet Riyadi wafat sekitar pukul 21.15 pada 4 November 1950.

“Kalau kata ibu saya (kakak Slamet Riyadi) beliau meninggal dunia saat berperang. Sempat keluarga meminta agar beliau dikebumikan di Solo. Namun sesuai wasiatnya tetap dimakamkan di Ambon,” terang keponakan Slamet Riyadi, Siti Sumarti, 74.

Diterangkan dia, Slamet Riyadi dimakamkan di tengah kebun kelapa Pantai Tulehu, bagian timur Pulau Ambon pada 5 November 1950. Melalui upacara militer sederhana yang dihadiri sejumlah pasukan yang terlibat dalam misi tersebut. 

Setelah kondisi di Ambon dan Maluku beranjak normal, jenazah Slamet Riyadi dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kapahaha, Ambon, Maluku. “Dari cerita keluarga, paman saya itu (Slamet Riyadi) sudah berpesan jika suatu saat dirinya gugur di medan perang, biarlah di makamkan di lokasi setempat. Karena di mana pun lokasinya adalah tanah air Indonesia. Di mana aku wafat, di sana aku dimakamkan,” kenang Siti Sumarti. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia