Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
DiBalik Gagahnya Patung Brigjen Slamet Riyadi

Kesulitan Bayar Pajak Rumah Pahlawan Nasional

10 November 2019, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

SAKSI BISU: Kondisi ruangan di sekitar kamar tidur Slamet Riyadi yang lebih terawat di bandingkan ruangan lainnya. Lantai bangunan ini hanya disemen dan ditutup terpal plastik.

SAKSI BISU: Kondisi ruangan di sekitar kamar tidur Slamet Riyadi yang lebih terawat di bandingkan ruangan lainnya. Lantai bangunan ini hanya disemen dan ditutup terpal plastik. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Patung Brigjen Anumerta Ignasius Slamet Riyadi berdiri tegap di jantung Kota Solo. Menjadi ikon. Namun, kondisi rumah pahlawan nasional itu tak segagah patungnya yang diwaktu tertentu dimandikan.

BANGUNAN rumah Slamet Riyadi di Kampung Jogosuran RT 01 RW 05, Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Kota Solo cukup membuat mengelus dada. Kurang perawatan. “Ya kodisinya memang seperti ini. Soalnya keluarga memang orang tidak punya. Jadi ya tidak bisa melakukan banyak perbaikan,” terang Siti Sumarti, 74, keponakan Slamet Riyadi yang kini menghuni rumah masa kecil pahlawan nasional itu.

Sumarti mendapatkan warisan rumah yang berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi dan dibangun sekitar 1848 itu dari ibunya, Sukati yang tidak lain merupakan kakak kandung Slamet Riyadi. 

Mengingat tahun berdiri dan sejarah pemiliknya, rumah bergaya limasan itu layak menjadi bangunan cagar budaya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11/2010 tentang Cagar Budaya. 

Tapi, Jawa Pos Radar Solo tidak menemukan plakat yang menyatakan bangunan tersebut cagar budaya. Yang ada hanya papan bertuliskan Rumah Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi di barat bangunan.

“Kalau plakat itu dibuatkan kelurahan tahun lalu. Kalau tidak salah waktu ada penilaian lomba di kelurahan. Ya, kalau bisa ada perhatian lebih, mungkin bisa diupayakan dari pemerintah. Saya sudah sangat kesulitan merawat bangunan ini. Apalagi pajaknya tiap tahun sangat mahal,” terang dia.

Di lihat dari bagian depan, muka bangunan rumah sejatinya menghadap ke selatan. Namun, tanda sebagai rumah pahlawan nasional berada di bagian barat, melalui pintu samping. Karena itu, saat berkunjung, Jawa Pos Radar Solo masuk lewat pintu belakang yang langsung mengarah ke bagian dapur dan kamar mandi.

Masuk ruang tengah, terdapat sofa lawas. Dahulu, tempat ini merupakan ruang berinteraksi Slamet Riyadi dan keluarganya. “Biasanya di sini Pak Slamet (sebutan akrab Slamet Riyadi) dan ibu saya (Sukati) buat PR (pekerjaan rumba) waktu masih sekolah sambil ditunggui kakek saya, Idris Prwiropralebdo (ayah Slamet Riyadi), sedangkan neneknya, Sutati menyiapkan makan malam,” urainya.

Sama seperti bagian dapur dan kamar mandi, ruang ini tampak sederhana dengan alas semen kasar yang sedikit berdebu. Terdapat karpet warna merah di antara meja tamu dan sofa lawas. 

Bagian depan rumah ini sedikit lebih terawat karena rutin digunakan kegiatan Posyandu kampung setempat. Dari setiap sudut banguan, ruangan yang paling bersih adalah sekitar kamar tidur Slamet Riyadi. Cat dinding terlihat masih baru. Lantai semen ditutup dengan terpal plastik untuk menghilangkan kesan berdebu.

Terpampang beragam dokumentasi sejarah dan penghargaan yang diberikan negara kepada Slamet Riyadi. Antara lain kliping koran lawas saat penyerahan pemerintahan Belanda kepada Indonesia yang diwakili Slamet Riyadi. Termasuk foto Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat memberikan gelar pahlawan nasional yang diwakili pihak keluarga.

Ada pula lukisan wajah sang jenderal di atas pintu kamar warna kuning gading. Menurut keterangan keluarga, di kamar itulah Slamet Riyadi kerap berpuasa ketika dirinya pulang kampung usai dinas di berbagai pelosok negeri.

“Ruangan ini memang lebih bersih karena baru saja direhab sama bapak-bapak TNI. Masa kecilnya (Slamet Riyadi) ya tidur di kamar ini. Tapi setelah perjuangan, kamar ini tidak dipakai. Paling hanya dipakai sesekali saat beliau menginap di Solo,” ungkap Sumarti.

Di kala Slamet Riyadi wafat sekitar 1950, Sumarti baru berusia lima tahun. Meski tak banyak memori tentang aktivitas sang paman, dia mengaku banyak mengenal Slamet Riyadi dari cerita keluarga maupun mata pelajaran sejarah ketika bersekolah. 

Ditambahkan perempuan berkerudung itu, jiwa patriotik Slamet Riyadi diturunkan dari sang ayah, Idri Prawiropralebdo. Idri merupakan prajurit Keraton Kasunanan Surakarta yang pernah bertugas hingga ke luar daerah pada zaman peperangan kerajaan di nusantara.

“Nama asli Pak Slamet itu sebenarnya Sukamto. Karena sering sakit-sakitan, akhirnya sesuai adat Jawa diganti nama menjadi Slamet. Kemudian nama Riyadi ditambahkan setelah sekolah. Nama babtisnya Ignasius sepertinya saat sudah masa peperangan,” bebernya.

Sumarti menyakini bahwa pamannya itu merupakan sosok sangat sederhana, sopan kepada orang tua, berpendirian teguh, dan berani melawan hal yang tidak benar. 

Saat mudik ke Solo, Sumarti masing ingat Slamet Riyadi hanya mengenakan pakaian sangat biasa. Bahkan, seseuai cerita ibunya, pamannya itu sering minta dijahitkan jika ada bajunya yang robek semasa dinas.

Terpisah, Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo mengakui Slamet Riyadi merupakan pahlawan nasional yang jasanya sangat besar untuk Indonesia, khususnya kota Solo. “Beliau kan juga pemuda asli kelahiran Surakarta. Jadi sudah semestinya masyarakat ikut mengenang jasa beliau,” terang dia.

Lalu bagaimana cara pemkot ikut menjaga rumah pahlawan nasional di Kelurahan Danukusuman tersebut? Purnomo mengatakan, mengingat bangunannya cukup tua dan memiliki nilai sejarah, ke depan diusulkan untuk mengoptimalkan perawatannya. “Yang jelas kita harus ikut menjaga atau malah dipugar sekalian. Nanti kami segera cek kira-kira apa kebutuhannya,” pungkasnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia