Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Sumbat Lava Merapi Terangkat, Aktivitas Kegempaan Meningkat

10 November 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

DIPANTAU 24 JAM: Awan panas letusan Gunung Merapi terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten kemarin (9/11). Foto kanan, Petugas Pusdalops PB BPBD Klaten tunjukkan kondisi Merapi terkini yang tertutup awan.

DIPANTAU 24 JAM: Awan panas letusan Gunung Merapi terlihat dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten kemarin (9/11). Foto kanan, Petugas Pusdalops PB BPBD Klaten tunjukkan kondisi Merapi terkini yang tertutup awan. (DOKUMEN WARGA-ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Gunung Merapi kembali erupsi sekitar pukul 06.21 kemarin (9/11). Luncuran awan panas beramplitudo maksimal 65 mm berdurasi kurang lebih 160 detik. Dampaknya, sejumlah desa di kaki gunung teraktif di dunia itu diguyur hujan abu sangat ditipis dan tidak mengganggu aktivitas warga.

“Iya tadi sempat turun hujan abu. Tapi cuma sebentar dan sangat tipis," terang Sekretaris Desa Tlogolele, Kecamatan Selo Neigen. Menurutnya, hujan abu bisa terlihat setelah menempel pada benda. Meski tak memengaruhi aktivitas warga, sebagai langkah antisipasi, pihaknya langsung membagikan masker kepada masyarakat. 

"Pemerintah desa memiliki stok masker. Jadi sewaktu-waktu terjadi hujan abu, kebutujan masker terpenuhi," ujarnya.

Mengacu data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, pascaletusan 14 Oktober lalu, data pemantauan mengalami peningkatan pada 25 Oktober. Berupa kenaikan jumlah gempa vulkano-tektonik dalam (VTA) mencapai 12 kali.

Peningkatan tersebut diikuti kenaikan gempa

gempa dangkal pada 26-28 Oktober. Kemudian , di 28 Oktober jumlah gempa vulkano-tektonik dangkal (VTB) mencapai lima kali dan multi-phase (MP) mencapai 27 kali. Setelah itu, kegempaan  kembali turun dengan jumlah rata-rata gempa VTA dan VTB sekali per hari dan  MP sekitar lima kali per hari.

Berdasarkan foto drone 30 Oktober lalu, di pusat kubah lava teramati material baru berupa sumbat lava yang terangkat. Diduga terkait dengan peningkatan aktivitas pada 25-28 Oktober. Aktivitas kegempaan kembali meningkat pada 8 November 2019 dengan catatan gempa VTA tiga kali, VTB sembilan kali, dan MP 44 kali.

"Awan panas meluncur dengan jarak sekitar 2 kilometer ke arah Kali Gendol, sedangkan kolom asap letusan setinggi ±1500 meter dari puncak," terang Kepala BPPTKG Hanik Humaida.

Wilayah yang melaporkan terjadi hujan abu, imbuh dia, didominasi di  sektor barat atau sejauh 15 kilometer  dari puncak. Seperti Wonolelo, Sawangan di Kabupaten Magelang dan Tlogolele, Selo, Kabupaten Boyolali. 

BPPTKG Jogjakarta mengimbau masyarakat tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi. “Jangan mudah percaya dengan informasi dari sumber tak jelas. Masyarakat bisa mendapatkan informasi seputar Gunung Merapi melalui pos pengamatan terdekat, radio

komunikasi, mengakses website www.merapi.bgl.esdm.go.id, atau media sosial BPPTKG,” tandas Hanik.

Sementara itu, tiga desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III, yakni Desa Balerante, Desa Sidorejo, dan Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang tidak terdampak hujan abu.

“Ketika terjadi letusan, kami koordinasikan dengan teman-teman tim reaksi cepat (TRC) sekitar Merapi. Kondisinya masih aman dengan berpijak pada rekomendasi BPPTKG untuk tidak melakukan kegiatan di area kurang 3 kilometer dari puncak Merapi,” jelas petugas pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana (Pusdalops PB) BPBD Klaten Indriarto.

Pemantauan aktivitas Gunung Merapi tetap dilakukan beberapa jam setelah letusan. Hal ini guna memastikan ada tidaknya hujan abu. Ketika terjadi hujan abu, persediaan masker bagi warga di KRB III sudah siap. Terlebih di masing-masing per wilayah KRB terdapat 4.000 buah masker yang bisa digunakan sewaktu-waktu. BPBD Klaten siap memberikan bantuan masker jika terjadi kekurangan.

“Aktivitas warga yang di atas (lereng gunung) tetap kondusif seperti biasa. Kami mengimbau pencari rumput tetap pada radius aman. Jangan terlalu ke atas hingga kurang 3 kilometer dari puncak Merapi. Bisa membahayakan dengan aktivitas gunung seperti saat ini,” beber dia.

Ditambahkan Indriarto, BPBD Klaten memantau Gunung Merapi selama 24 jam dengan memanfaatkan kamera pemantau yang terpasang di Pos Induk Balerante. 

Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang Jainu mengatakan, semburan awan panas Gunung Merapi pagi kemarin diikuti suara seperti benturan batu, sehingga warga keluar rumah untuk memastikan kondisi sekitarnya.

“Ternyata ada letusan itu. Tapi setelah dirasa aman, warga kembali ke rumah melanjutkan aktivitasnya masing-masing,” ucapnya.

Koordinator Relawan Desa Tegalmulyo Subur mengatakan, kolom letusan dilihatnya cukup tinggi. Meski begitu dipastikan tidak terjadi hujan abu di wilayahnya. “Kondisi Tegalmulyo aman,” kata dia. (wid/ren/wa)

(rs/wid/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia