Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Resi Gudang Tingkatkan Pendapatan Petani Wonogiri

11 November 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Perdana

LUMBUNG PANGAN: Petani melintas di area perawahan Desa Pasekan, Kecamatan Eromoko.

LUMBUNG PANGAN: Petani melintas di area perawahan Desa Pasekan, Kecamatan Eromoko. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Bupati Wonogiri Joko Sutopo "Jekek" mengklaim sistem resi gudang (SRG) untuk menyerap hasil panen petani dapat menambah penghasilan petani. Pasalnya, SRG membeli gabah petani di atas harga tengkulak.

Bupati Jekek menyebut 32.664 hektare dengan hasil panen 5,6 ton perhektare. Sedangkan kebutuhan beras hanya 84.000 ton.

”Versi Dinas Pertanian kita surplus 143.000 ton. Tapi catatan karena yang dihitung dari luas kali hasil per-hektare. Yang 143.000 ini tidak ketemu, dari mana ini? Ya dari tengkulak.” kata Jekek, Kamis (7/11). 

Saat panen, petani di Kabupaten Wonogiri terkendala harga jual gabah yang rendah akibat permainan harga oleh tengkulak. Akibatnya, penghasilan petani minim lantaran habis untuk modal penanaman kembali. Dari satu hektare lahan, petani hanya bisa mengantongi Rp5 juta per musim panen.

”Kalau dihitung, pendapatan petani ini hanya Rp 5 juta per tiga bulan. Perhari hanya Rp 18 ribu. Maka itu, petani padi di Wonogiri ini secara kultur petani hobi bukan petani bisnis,” kata Jekek.

Untuk itu, pemkab berupaya meningkatkan pendapatan petani dengan SRG. Dalam SRG, petani bisa menikmati harga gabah lebih tinggi dari HPP dan tengkulak dengan selisih hingga Rp 200-Rp 300 per kilogram (kg). Saat SRG menjual gabah, petani pun masih bisa mendapatkan cashback sebesar 2 persen dari keuntungan yang dikelola SRG.

”Tapi saat ini baru ada 35 dari ratusan Gapoktan (gabungan kelompok tani) yang ada di Wonogiri. Kami akan mendorong agar semua gapoktan bisa bergabung dalam SRG,” imbuh dia.

Menurut Jekek, salah satu kendala dalam SRG itu adalah keberadaan gudang yang jauh dari jangkauan petani. Saat ini baru ada satu gudang di Kecamatan Selogiri. Hal itu tentu terlalu jauh untuk petani dari Kismantoro atau Baturetno mengirimkan gabahnya. Dia berharap ke depan gudang SRG bisa dibangun di setiap distrik untuk memperpendek jarak dengan petani. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia