Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

BPPKAD Surakarta Kaji Bebaskan PBB Rumah Slamet Riyadi

11 November 2019, 15: 01: 10 WIB | editor : Perdana

PERLU PERHATIAN: Rumah pahlawan Brigjen Slamet Riyadi di Kelurahan Danukusuman, Serengan, Solo.

PERLU PERHATIAN: Rumah pahlawan Brigjen Slamet Riyadi di Kelurahan Danukusuman, Serengan, Solo. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Keberatan ahli waris Brigjen Anumerta Ignasius Slamet Riyadi soal tingginya pajak bumi dan bangunan (PBB) rumah pahlawan nasional asal Solo ini mendapat respons dari pemkot setempat. Pemkot siap membebaskan PBB rumah di Kampung Jogosuran, Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, Solo, ini jika masuk cagar budaya. 

Kepala Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Surakarta Yosca Herman Soedrajad memastikan, bila rumah itu masuk cagar budaya maka bebas PBB. Sekalipun tidak, pemkot akan berupaya memberikan keringanan sebanyak mungkin agar biaya pajak itu tidak membebani pemilik bangunan karena merupakan pahlawan nasional. 

Pihaknya akan meninjau dulu dengan dinas terkait. Mengingat ketentuan untuk menyatakan suatu bangunan  masuk kategori cagar budaya atau tidak merupakan kebijakan tim khusus di bawah dinas kebudayaan. Namun untuk urusan pajak, sementara pihaknya baru bisa menyatakan kesanggupan membantu pihak keluarga dalam pengelolaan hunian itu, khususnya soal PBB. 

“Ya, nanti ditinjau dulu tentang berbagai hal terkait. Kalau pemilik rumah merasa keberatan nanti diupayakan bantuan semaksimal mungkin,” kata Herman.

Pihaknya pun menyarankan agar pihak keluarga membuat surat pengajuan pada pemerintah kota. Pihaknya bakal segera mengunjungi kediaman pahlawan nasional itu. 

“Saya minta keluarga segera mengirimkan surat pengajuan. Nanti pasti langsung kami tinjau. Sebagai generasi penerus tentu kita harus ikut menjaga warisan para pahlawan. Pemkot siap mengupayakan berbagai hal agar bisa membantu melestarikan aset bersejarah itu,” tegas dia.

Pengurus rumah Brigjen Slamet Riyadi, Siti Sumarti, 74, menyambut niat baik pemerintah. Dia tak malu mengakui membutuhkan bantuan pemerintah dalam merawat rumah milik pamannya itu mengingat PBB setempat terus naik tiap tahunnya. 

“Tahun ini PBB sudah sampai Rp 2,3 juta. Saya sangat berterimakasih kalau bisa dikurangi oleh pemerintah,” jelas keponakan Slamet Riyadi itu.

Siti Sumarti memang tidak sendiri dalam mengurus rumah warisan dari orang tuanya dulu (Sukati, kakak Slamet Riyadi). Dia dibantu dua orang anaknya yang juga masih tinggal di rumah warisan keluarga itu. Kendati demikian, kehidupan mereka pun pas-pasan. 

“Putra saya yang pertama sudah berkeluarga kerja hanya sebagai buruh serabutan. Anak kedua saya kerja di toko batik. Nah, saya sendiri masih ada jatah uang pensiuan dari suami saya yang dulunya guru. Itu pun hanya Rp 1 juta per bulan. Makanya kalau bisa dibantu sangat berterima kasih,” jelas dia.

Sekadar informasi, selain urusan PBB, masih banyak sudut bangunan bersejarah ini yang belum mendapat sentuhan perbaikan. Satu-satunya upaya renovasi datang dari sejumlah TNI AD dari RST Slamet Riyadi akhir Oktober lalu. Mereka membuat sedikit perubahan pada bangungan lawas itu sehingga bisa dibilang lebih layak untuk bekas kediaman seorang patriot. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia