Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Menyambut Ledakan Demografi Penduduk 2030 di Kota Solo

11 November 2019, 15: 04: 02 WIB | editor : Perdana

Menyambut Ledakan Demografi Penduduk 2030 di Kota Solo

Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada 2030, tak terkecuali Jawa Tengah. Tentu ini akan berdampak besar bagi berbagai lini kehidupan. Ini merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan.  

BONUS demografi adalah meledaknya jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) dibandingkan usia nonproduktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Jawa Tengah diprediksi akan mengalami hal tersebut, bahkan dari data BPS Surakarta menunjukkan bahwa usia produktif terus bertambah setiap tahunnya.

Kepala Seksi Stastistik Sosial BPS Surakarta Ernita Septiana mengatakan, pertumbuhan usia produktif cukup bergerak cepat dibeberapa kota/kabupaten. Bahkan, Jawa Tengah sendiri kemungkinan pada 2035 akan mengalami hal tersebut. Sebab itu, pihaknya mengimbau pada pemerintah dan stakeholder segera mengambil langkah strategis. Sehingga ketika ledakan demografi ini terjadi, Jawa Tengah, khususnya Kota Solo dan sekitarnya sudah siap mengarahkan.

Pada 2019 ini per Agustus, usia produktif atau yang diatas usia 15 tahun sebanyak 4.193.736 jiwa untuk Solo dan sekitarnya. Sebelumnya pada 2018 jumlah usia produktif Solo dan sekitarnya sebanyak 4.927.276 jiwa, sedangkan pada 2010-2017 terakumulasi sebanyak 3.375.162 jiwa.

“Dengan perkembangan demografi tersebut, alangkah baiknya pemerintah dan stakeholder membuka lapangan pekerjaan atau memberikan program-program penguatan SDM. Sehingga jika terjadi lonjakan demografi usia produktif akan mampu menampung mereka,” ujarnya.

Dilihat dari data yang ada, angka pengangguran pun sebenarnya masih ada dan rerata cukup banyak. Di Solo dan sekitarnya, jumlah pengangguran sebanyak 112.788 jiwa, di mana ini merupakan usia produktif angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan dengan berbagai alasan. Sedangkan untuk usia produktif bukan angkatan kerja (pelajar atau sekolah, ibu rumah tangga, dan lainnya) pada 2019 untuk Solo dan sekitarnya sebanyak 1.521.714 jiwa.

“Menurut kami, Solo dan sekitarnya sudah sangat siap. Terebih wali kota dan jajaran lainnya sudah mulai mengembangkan program-program, terutama enterpreneurship. Harapannya kita akan lebih siap, karena setelah bonus demografi ini juga akan muncul ledakan usia nonproduktif atau di atas usia 65 tahun yang banyak. Nah, tantangannya bagaimana usia 65 tahun ke atas yang sudah tidak produktif lagi menjadi atau tetap produktif. Agar tak menyusahkan anak-anaknya,” ujarnya. 

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) Surakarta Ariani Indrastuti menjelaskan, pihaknya terus berupaya mempersiapkan diri sebelum bonus demografi terjadi. Yakni dengan memperkuat sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai pelatihan skill sesuai dengan tantangan dunia masa kerja kini dan masa depan.

“Ini tentu menjadi kesempatan sekaligus tantangan kita bersama. Untuk menyiapkan itu, pertama kita tingkatkan daya saing agar pendapatan per kapita meningkat,” ujarnya.

Kemudian meningkatkan kesempatan kerja bagi usia produktif, menyiapkan peran perempuan dalam masa kerja, hingga di tingkat rumah tangga terus didorong untuk membuka usaha sehingga menghasilkan income secara mandiri.

Pihaknya sedang mengadakan pelatihan di skill development center (SDC), terutama pelatihan kerja berbasis anak muda. Di antaranya, startup, web design, bothcamp, dan robotik. “Ini sekaligus mengadapi era industri 4.0. karena tenaga kerja dibidang IT sangat dibutuhkan. Sehingga kualitas SDM (di bidang IT) terus kita tingkatkan. Sehingga nanti bisa mengejar kebutuhan kerja. Antara keterampilan dan dunia pekerjaan saling mix and match,” imbuhnya.

Ditambahkan Ariani, minat lulusan, terutama SMK untuk mengikuti pelatihan SDC sangat tinggi. Setiap bidang pada angkatannya sedikitnya ada 16 orang yang mengikuti pelatihan. Sehingga para lulusan SMK saat ini lebih bisa terarah kenapa akan bekerja.

“Selain itu, ke depan kita juga memiliki wacana selain dilatih, mereka akan diuji kompetensinya, dimagangkan, hingga kemudian ditempatkan. Kita akan terus kawal supaya mereka bisa pekerja,” ujarnya.

Soal ketersediaan lapangan pekerjaan dengan pencari pekerja ketika bonus demografi terjadi, Ariani belum bisa memastikan hal tersebut. Meski begitu, pihaknya sudah antisipasi sejak dini. Selain mengadakan pelatihan di bidang skill, pemkot juga akan membuka pelatihan di bidang kewirausahaan.

“Kalau cuma mengandalkan pembukaan lowongan kerja kita tidak bisa menjamin hal tersebut. Jadi lebih baik mereka bisa membuat usaha sendiri, atau malah bisa membuka lapangan kerja baru,” ujarnya.

Untuk jumlah pengangguran di Solo, Ariani mengatakan, data terakhir 2017, terdeteksi ada 12 ribu warga Kota Bengawan menganggur. “Kalau rasio penduduk bekerja di Solo meningkat. Dari 92,4 persen pada 2014, menjadi 95,61 persen pada 2018,” paparnya.

Mengenai fenomena pilih-pilih pekerjaan, Ariani membenarkan hal tersebut masih terjadi. Namun hal tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan. “Kalau ingin gaji besar, tentunya harus punya ketermpilan lebih dari yang lain. Tapi kadang, yang terjadi memilih pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuanm itu yang agak repot,” pungkas Ariani. (gis/atn/bun)

(rs/gis/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia