Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Seribuan Mantan Karyawan PT Tyfountex Geruduk Kantor Disperinaker

11 November 2019, 22: 46: 20 WIB | editor : Perdana

Mantan buruh PT Tyfountex mengadukan nasib mereka ke kantor Disperinaker Sukoharjo

Mantan buruh PT Tyfountex mengadukan nasib mereka ke kantor Disperinaker Sukoharjo (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO - Sekitar seribuan mantan pekerja PT Tyfountex, Gumpang, Kartasura menggeruduk kantor Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Senin (11/11) pagi. Mereka juga mengumpulkan surat keterangan perjanjian pembayaran pesangon.

Ribuan buruh tersebut menuntut pembayaran pesangon yang telah menunggak dua bulan. Padahal, pesangon senilai gaji yang semestinya diberikan akhir bulan tersebut telah disepakati dalam surat bermeterai oleh PT Tyfountex.

Selain itu, buruh juga mendapat kabar jika pembayaran pesangon yang harusnya dibayar 30 bulan justru akan dibayar 60 bulan dengan setengah gaji. Koordinator mantan buruh bagian dyeing Tri Agung Prabowo mengatakan, sekitar 1.100 pekerja telah diputus hubungan kerja (PHK) secara bertahap sejak Februari 2019. Alasannya perusahaan tengah mengurangi jumlah tenaga kerja. 

Sebelumnya telah dilakukan tripartid pertama di kantor disperinaker. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan pekerja, pengacara pihak PT Tyfountex, manajemen PT Tyfountex, serta perwakilan disperinaker pada 22 Oktober 2019.

"Kan pesangon tidak dibayar dari September-Oktober dan sudah disepakati pembayaran pesangon 30 bulan. Namun, kami justru menerima kabar jika pembayaran akan dilakukan selama 60 bulan dan setengah dari pesangon," katanya.

Pihaknya kemudian menyurati disperinaker untuk minta mediasi. Sebab, selama ini pembayaran pesangon dengan sistem transfer tersebut terus ditunda-tunda. Tri mengaku rata-rata buruh telah bekerja lebih dari 25 tahun dengan usia di atas 45 tahun.

"Alasan penunggakan pembayaran karena cashflow-nya tidak ada. Kami hanya menuntut agar penunggakan dibayarkan. Kami juga meminta agar pemiliknya (pemilik PT Tyfountex, Red) menemui kami," ujar Tri.

Tak hanya ke disperinaker, pihaknya juga menyurati Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya, DPRD Sukoharjo, bahkan Kementerian Ketenagakerjaan agar permasalahan pesangon ini bisa segera beres. 

Salah satu mantan buruh PT Tyfountex Suparti mengaku, sebelumnya proses pembayaran pesangon berjalan lancar. Baru pada September pembayaran mulai ditunda-tunda hingga saat ini. "Setelah PHK kami kan tidak kerja, jadi tidak ada pemasukan. Hanya mengandalkan uang pesangon itu. Biasanya pesangon dikirim tiap tanggal 30 sebesar Rp 1,8 juta," terangnya.

Sementara itu, Kepala Disperinaker Sukoharjo Bakhtiyar Zunan mengatakan, ada sekitar 1.600 mantan pekerja yang belum memperoleh pesangon. Oleha karena itu, pihaknya akan mempertemukan perwakilan buruh dengan manejemen perusahaan. (rgl/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia