Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Kasus Perceraian Sragen Rangking Satu, Tembus 2 Ribu Gugatan

12 November 2019, 13: 47: 45 WIB | editor : Perdana

Kasus Perceraian Sragen Rangking Satu, Tembus 2 Ribu Gugatan

SRAGEN – Kasus perceraian di Sragen tertinggi dibanding kota/kabupaten di eks Karesidenan Surakarta. Saat ini, 2.000 kasus perceraian masuk ke Pengadilan Agama Kelas 1A Sragen. Faktor ekonomi menjadi sebagian besar alasan perceraian.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Sragen, selama Januari-Oktober, terdapat 1.426 cerai gugat, atau permohonan atas permintaan dari pihak perempuan. Sedangkan cerai talak kurang dari setengahnya, yakni 639 permohonan. Jadi berkas perceraian selama 10 bulan terakhir 2.065 kasus.

Panitera PA Sragen Ahmad Fuad Agustani mengatakan, dari tujuh kabupaten/kota, Sragen tertinggi dalam kasus perceraian, sementara Solo menjadi yang terendah. Jika dirata-rata setiap hari selama 2019 ini, ada enam sampai tujuh  pasangan warga Sragen bercerai.

”Tahun ini dua ribuan sampai Oktober. Faktor tertinggi memang ekonomi. Kasus lain selingkuh cemburu itu. Penanganan sudah 70 persen, sedangkan 30 persen berjalan,” terang Agus.

Fakta lain kebanyakan pasangan yang mengajukan gugatan cerai yakni dari pedesaan. Sementara dari wilayah kota jauh lebih sedikit. Sedangkan faktor terbesar penyebab alasan perceraian adalah ekonomi. Menyumbang 36 persen perkara. Kemudian perselingkuhan mencapai 17 persen. Sedangkan lain-lain, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan faktor cemburu.

Wakil Ketua Pengadilan Agama Sragen Muhdi Kholil mengatakan, tingginya angka perceraian ini berbanding lurus dengan jumlah pernikahan di Sragen. Muhdi mengakui faktor terbesar pengajuan cerai adalah ekonomi. Namun tidak saja ekonomi yang kurang sebagai pemicu, ekonomi berlebih juga menjadi pendukung, karena itu kemudian ada perselingkuhan dan sebagainya. 

”Faktor selingkuh ada juga, tapi yang banyak ekonomi, kurang nafkah. Kalau ekonomi berlebih biasanya mengajukan dengan alasan selingkuh,” tuturnya.  

Terpisah, Ketua Kelompok Kerja Penghulu (Pokjahulu) Sragen Muhammad Fadlan menyampaikan, tingginya tingkat perceraian bisa karena berbagai sebab. Di antaranya seperti pernikahan dini menyebabkan tidak siap menghadapi problematika rumah tangga.  Selain itu, faktor ekonomi karena tidak stabilnya kondisi ekonomi.

”Termasuk ditinggal merantau untuk bekerja. Lama ditinggal pasangannya juga bisa menjadi penyebab,” tuturnya.

Namun dari internal keluarga yang bercerai tidak bisa mengatasi problem rumah tangga. Dalam menikah tidak memiliki keahlian mengatasi masalah rumah tangga. ”Proses cerai di pengadilan itu bukan berarti tidak baik. Bisa jadi itu malah memecahkan masalah,” kata dia. (din/bun)

Berpisah di Pengadilan

1.426

Cerai gugat (dari perempuan)

639

Cerai talak (pihak laki-laki)

Sumber: Pengadilan Agama Sragen

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia