Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Yuyun Damayanti, Resign dari Pekerja Kantoran Pilih Tekuni Bisnis

13 November 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PRODUK LOKAL: Yuyun Damayanti mengikuti sebuah pameran kerajinan.

PRODUK LOKAL: Yuyun Damayanti mengikuti sebuah pameran kerajinan.

Share this      

Memilih ke luar dari zona nyaman sebagai pegawai kantoran merupakan titik awal dari Yuyun Damayanti memulai langkah baru. Berbekal keahlian dia membuat kerajinan, Yuyun membuat kain perca menjadi karya unik dan menarik. Seperti apa?

SERAFICA GISCHA P, Solo, Radar Solo

SETELAH memutuskan resign dari instansi pendidikan yang dia geluti selama lima tahun, membuat Yuyun Damayanti lebih bebas berkreasi karena tidak terikat waktu. Dia pun mulai meningkatkan skill dengan mengikuti pelatihan menjahit.  

Selain ingin fokus mengurusi rumah, Yuyun juga aktif mengikuti pelatihan-pelatihan termasuk pemanfaatan perca dan membuat tas. Yuyun sengaja memilih berlatih membuat tas karena memiliki kerumitan sehingga memunculkan tantangan baru. Baginya menjahit itu bukan hanya sekadar menusukkan jarum dan benang ke kain, tetapi juga perlu pengalaman.

“Awal mula produksi tas dari kain perca ini karena waktu itu pulang dari pelatihan, terus iseng-iseng latihan sendiri. Waktu itu sempat buat lima buah tas, kemudian dimasukkan ke media sosial dan dipakai sendiri. Kok ternyata banyak yang tertarik. Untuk model pertama tas Yoyo,” jelas Yuyun, Jumat (8/11).

Karena bosan dengan tas itu-itu saja, Yuyun terus melakukan inovasi terhadap produknya. Berkembang dengan kalung kain percaya. Yang awalnya hanya pesanan dari sang saudara. Karena ketagihan dia akhirnya terus membuat kalung tersebut. Kini produk kain perca Yuyun semakin berkembang. Mulai dari tas Yoyo, kalung, hingga tas anyaman yang memadukan kain perca dan kain katun.

Bagi Yuyun, tidak ada yang mudah dalam berusaha, namun harus disertai dengan keyakinan dan tentunya konsistensi. Saat ini dia menekuni tas dan dompet dari anyaman kain perca dan batik, serta mampu membawa Yuyun lolos mengikuti pameran Inacraft 2019. Meski tak banyak mendapatkan pelanggan dari luar negeri, namun Yuyun berhasil mempromosikan produknya secara nasional dan mendapat perhatian dari orang-orang Jepang.

“Konsentrasi dengan produk kain perca karena memang bahannya melimpah. Kebetulan karena sudah berkecimpung cukup lama, akhirnya menemukan penjahit yang kain percanya beragam dan banyak. Saya bisa dapat 10-15 kilogram dalam sekali datang. Dan kebanyakan kain perca yang saya ambil ini fresh. Artinya memang kain-kain yang baru saja dipotong atau dibuat pola,” terangnya.

Jika dulu Yuyun mengaku bisa memproduksi 50 tas dalam satu bulan, kini dia sudah dibantu dengan tiga orang untuk memproduksi tas dan pernak-pernik seperti kalung dan gantungan kunci. Hal ini karena produksi yang dibuat Yuyun semakin banyak, bahkan pesanan tak hanya untuk group saja tetapi sudah mengarah ke souvenir pernikahan. Untuk pangsa pasarnya diakui Yuyun masih di sekitar Jawa, Batam, dan Sumatera. Kalau luar negeri hanya beberapa kenalan di Jepang.

“Kendala saat ini memang di sumber daya manusia yang masih terbatas. Karena sekarang cukup sulit menemukan orang yang hobi menjahit. Setelah dibantu tiga orang, dalam satu bulan mungkin bisa 100-200 untuk produk secara keseluruhan,” tandasnya. (*/bun)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia