Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

KA Kalijaga Bakal Stop Beroperasi

13 November 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

MASIH DIMINATI: Kereta Api Kalijaga menurunkan penumpang di Stasiun Solo Balapan, Selasa (12/11).

MASIH DIMINATI: Kereta Api Kalijaga menurunkan penumpang di Stasiun Solo Balapan, Selasa (12/11). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Kereta Api Kalijaga rute Stasiun Poncol Semarang-Solo Balapan dikabarkan berhenti beroperasi per 1 Desember mendatang. Belum diketahui pasti alasan kereta ini bakal berhenti beroperasi. Padahal, jalur ini merupakan salah satu favorit penumpang karena harga tiketnya disubsidi pemerintah. 

Kepala Stasiun Solo Balapan Suharyanto membenarkan ada wacana ini. Namun dia enggan menjelaskan secara detail alasan penghentian operasional kereta api ini. “Langsung ke Daop (PT. KAI Daop VI Jogjakarta). Yang jelas semua program KA di komersialkan,” jelasnya.

Pantauan koran ini, kereta api ekonomi ini tiba di jalur 6 peron utara Stasiun Balapan Solo sekitar pukul 11.44. Minat masyarakat menggunakan kereta api juga terlihat masih tinggi. Terbukti, banyaknya masyarakat turun dari tiap gerbongnya.

Rahma Fatmawati, 21, warga Layur, Semarang Utara ini mengaku menjadi pelanggan setia KA Kalijaga ketika berkunjung ke Kota Bengawan. Alasannya harga tiketnya lebih murah, sehingga cocok dengan kantong mahasiswa. “Kalau naik ini paling cuma Rp 10 ribu. Kalau naik Joglosemarkerto bisa Rp 50 ribu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Sobari Raharjo, 45, yang sudah menjadi pelanggan KA Kalijaga sejak kali pertama beroperasi. Pedagang batik di Pasar Klewer ini mengatakan, setiap membawa barang dagangan memang menggunakan kereta api ini. “Ya, karena harganya lebih murah,” ujarnya.

Sobari naik dari Stasiun Tawang, Semarang dengan waktu tempuh 2,5 jam untuk tiba di Solo. “Kalau tidak beroperasi lagi ya sangat disayangkan, karena kalau naik ini lebih murah. Daripada naik bus atau kereta lainnya, bisa menekan biaya ongkos perjalanan,” ujarnya

Manager Humas Daop VI Jogjakarta Eko Budiyanto belum mengetahui wacana tersebut. Dia mengatakan, KA Kalijaga merupakan kereta api subsidi dan statusnya penugasan dari pemerintah pusat.

“Jadi sistemnya pakai kontrak. Sampai kapan kontraknya habis belum tahu. Kalau nanti diperpanjang, kontraknya diperbaharui lagi. Intinya kami ikut dengan pemerintah saja,” paparnya. 

Pandangan lain disampaikan pengamat perkeretaapian Tintoy Rizam Ghani. Dia mengatakan, sejak awal beroperasi, KA Kalijaga kurang diminati masyarakat. Sebab, jam operasionalnya terlampau pagi ketika berangkat dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Poncol Semarang. 

Tintoy menjelaskan, melihat dari sejarahnya, KA Kalijaga kali pertama beroperasi pada 2014. Kereta ini menggantikan Kereta Rel Diesel (KRD) Pandanwangi. “Karena sering rusak dan tidak beroperasi, maka dioperasikan KA Kalijaga,” tuturnya.

Saat itu kereta ekonomi ini diresmikan oleh Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Surakarta, F.X Hadi Rudyatmo. “Kalau tidak salah peresmiannya itu di Stasiun Purwosari, dulu juga rutenya tidak berhenti di Balapan, tapi juga sampai Purwosari. Dulu tarifnya Rp 25 ribu,” ucapnya.

Digadang-gadang bisa melayani masyarakat secara maksimal, realisasinya kereta yang bisa mengangkut 636 orang ini malah sepi peminat. Sebab, jam operasional kereta yang terlampau pagi. Di mana kereta ini berangkat dari Solo menuju Semarang sekitar pukul 05.30 pagi.

Karena sepi peminat, lanjut Tintoy, kereta api yang membawa tujuh gerbong ini juga sempat diwacanakan berhenti operasionalnya. Sebab, keuntungannya tidak sebanding dengan biaya operasional untuk kereta jalur lintas ini. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta KA Kalijaga terus beroperasi. “Karena diharapkan KA Kalijaga ini dapat menghubungkan kota-kota besar di Jateng dan DIY, serta menjadi poros Joglosemar ke depannya,” jelas Tintony.

KA Kalijaga pun tetap beroperasi, namun dengan konsekuensi tarifnya di turunkan menjadi Rp 10 ribu sekali jalan. Hal tersebut diharapkan agar bisa meningkatkan minat kereta api ini. “Ada subsidi dari pemerintah dengan sistem kontrak,” tuturnya.

Disinggung soal lamanya waktu tempuh apakah memengaruhi minat penumpang, Tintoy mengatakan tidak. Sebab, memang jalur Solo-Semarang dikenal dengan julukan jalur gunung. “Sehingga terdapat titik-titik tertentu di mana kereta tidak bisa ngebut. Sangat berbeda dengan jalur kereta Solo-Jogjakarta yang landai,” ucapnya.

Ditambahkan Tintoy, pada 2017, kereta ini tidak lagi berhenti di berangkat dan datang di Stasiun Purwosari, namun hanya sampai Stasiun Balapan. Yang jelas kereta api ini masih beroperasi meski dinilai sepi peminat. 

“Akhirnya muncul KA Joglosemarkerto, penumpang pindah ke sana. Kemudian tol Trans Jawa. Orang dulu pilih naik kereta karena perjalanan darat Solo-Semarang sangat lama, tapi sejak ada tol orang pilih lewat tol,” tuturnya

Untuk mahasiswa atau pedagang masih sering naik. Sebab, ongkosnya murah. Meski sepi di hari biasa, Tintoy mengatakan, kereta ini malah ramai pada mudik Lebaran maupun  Natal dan tahun baru. Mereka yang kehabiskan tiket hendak mudik ke Solo pasti menggunakan KA api ini. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia