Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Pemain Lokal Makin Sulit Tembus Persis, Tak Ada Seleksi Terbuka

13 November 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Dua pemain lokal Solo M. Isa (kiri) pemain PS UNS saat uji coba awal musim lalu.

Dua pemain lokal Solo M. Isa (kiri) pemain PS UNS saat uji coba awal musim lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kesempatan pemain lokal Solo dan sekitarnya untuk berseragam Persis musim depan nampaknya sangat tipis. Persis memutuskan tidak menggelar seleksi pemain secara terbuka dalam membangun skuad untuk Liga 2 2020.

Persis saat ini sudah mengantongi 14 nama pemain musim lalu yang siap disodori kontrak kembali. Sementara Pelatih kepala Persis Salahudin berencana membawa 26 pemain musim depan. Setidaknya masih butuh 12 pemain baru lagi. Sayangnya, untuk melengkapi slot itu tidak dengan cara seleksi terbuka.

”Kita sementara tidak menggelar seleksi terbuka. Pertimbangannya kita ingin mengejar pemain rekomendasi head coach dulu,” beber Manajer Persis Langgeng Jatmiko kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/11).

Sejatinya saat ini sudah ada nama-nama pemain lokal yang berpeluang kembali berseragam Persis. Yakni Muhammad Isa dan Susanto. Keduanya masuk daftar nama pemain yang akan diperpanjang kontraknya. Namun, kesuksesan mereka gabung Persis tidak didapat dengan mudah. Keduanya sempat harus malang melintang terlebih dulu ke klub lain. M. Isa ke PS Mojokerto Putra (musim 2017) dan Madura FC (musim 2018).

Sementara Susanto sempat berlabuh ke Persik Kendal (musim 2018). Itu juga karena dua musim terakhir tidak ada seleksi terbuka di Persis. Sedangkan sosok kiper asli Solo Andri Prabowo yang dua musim terakhir berseragam Persis kemungkinan tidak lagi masuk daftar.

Sejumlah klub internal Persis menyayangkan tidak adanya seleksi terbuka Persis. ”Kalo memang sudah membentuk kerangka tim dan tidak membuka seleksi untuk merekrut pemain lokal Solo, itu sangat mengecewakan kami selaku pembina klub internal. Otomatis pemain-pemain lokal Solo akan menjadi kompetitornya Persis dan itu preseden buruk bagi persepakbolaan Solo,” beber petinggi PS Mars B.M Anjasmara.

Senada diungkapkan Manajer Unsa Asmi Rio Arya Surendra. Menurutnya, sebagai klub profesional, Persis memang berhak untuk mengatur format seleksi. Akan tetapi, jangan lupa juga bahwa Persis adalah entitas daerah Surakarta. Persis seharusnya ada "kewajiban" yang tidak tertulis untuk merepresentasi daerah, termasuk memfasilitasi pemain lokal Solo agar berkesempatan dalam seleksi. Nantinya jika ada pemain lokal yang layak, potensial dan mendapatkan tempat dalam tim, masyarakat Solo akan lebih dekat dengan klub.

”Saya berharap ke depannya juga tercipta sinergi yang positif antara klub Persis Solo dan daerah khususnya pemerintah daerah beserta masyarakat pecinta sepakbola Solo,” jelasnya.

Sementara petinggi AD Batik Romli juga mengharapkan adanya slot pemain lokal di tim Persis. Minimal harus ada seleksi terbuka, meskipun pada akhirnya seleksi alam yang menentukan layak tidaknya masuk ke tim. ”Seleksi juga jadi ajang evaluasi bagi kami tim-tim internal Persis. Jika pemain tidak lolos seleksi, berarti pembinaan kita yang harus ditingkatkan. Kalau tidak ada kesempatan sama sekali, ya kita tidak tahu kekurangannya apa,” jelas Romli. (adi)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia