Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Konversi BBM ke BBG Rentan Polemik

13 November 2019, 18: 47: 30 WIB | editor : Perdana

BANTUAN DATANG: Sosialisasi tentang konversi BBM ke BBG dan pemberian pompa BBG kepada petani di Sragen

BANTUAN DATANG: Sosialisasi tentang konversi BBM ke BBG dan pemberian pompa BBG kepada petani di Sragen (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Pengalihan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) oleh petani rentan menuai polemik. Ketersediaan BBG yang terbatas rawan terjadi tumpang tindih dengan kebutuhan rumah tangga. Selain itu, pemberian bantuan pompa BBG tanpa melalui kelompok tani juga memicu kecemburuan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Direktorat Jenderal Miyak dan Gas Bumi melakukan sosialisasi terkait konversi BBM ke BBG untuk pertanian, kemarin (12/11). Salah satunya dengan membagikan 350 pompa BBG ke petani. Setiap bantuan senilai Rp 7 juta.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno mewanti-wanti soal konversi BBM-BBG ke petani. Meski program itu bersifat positif, namun banyak hal yang perlu diantisipasi pemerintah.

”Kalau memang niat, petani harus diberi alokasi khusus BBG. Karena di Sragen luasan lahannya cukup banyak,” ujar Suratno, Selasa.

Pihaknya menekankan agar ketersediaan BBG mencukupi bagi petani. Dan, tak justru berdampak pada pengurangan jatah rumah tangga. ”Kalau tidak disiapkan, bisa timbul masalah lagi,” ucap Suratno.

Salah satu solusi yang disarankan dia yakni perlunya kios atau agen yang menampung BBG khusus ke petani. ”Jadi sekalian dibuat penyalur gas, difungsikan penyalur pertanian. Dibedakan untuk kebutuhan rumah tangga,” bebernya.

Terkait pemberian bantuan kemarin, Suratno menuturkan, pemerintah seharusnya tidak memberikan kepada pribadi. Ini guna menghindari kecemburuan di tingkat petani. 

”Harusnya disampaikan ke kelompok karena data yang konkret ada di kelompok. Kelompok sudah dipetakan, yang menggunakan dan yang tidak. Seperti yang menggunakan sawah tadah hujan kan tidak mungkin pakai pompa,” tegas Suratno.

Sekretaris Dirjen Migas ESDM Iwan Prasetya Adi menyampaikan, secara umum penggunaan BBG bisa menghemat biaya petani. Konversi BBM ke BBG ini juga merupakan program pemerintah. Jika sebelumnya petani menggunakan gas bersubsidi dianggap ilegal, sekarang sudah legal berdasarkan Perpres Nomor 38 Tahun 2019.

Selain Sragen, bantuan pompa BBG juga diberikan kepada para petani di Kabupaten Klaten, Malang, dan Bantul. Menanggapi soal kepastian ketersediaan elpiji bagi petani, Iwan menegaskan, kuotanya akan ditambah sesuai kebutuhan. 

”Ini (bantuan, Red) pertama soal pompa gratis. Tapi ke depan mereka (petani, Red) harus beli sendiri. Dengan anggaran terbatas, kita bagi ke seluruh Indonesia,” beber Iwan.

Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengungkapkan, pada 2020 pemkab akan mengusulkan bantuan untuk 2.000 petani secara perorangan.”Yang menerima sesuai aturan dan persyaratan seperti luasan lahan punya NPWP dan sebagainya,” terang Yuni. (din/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia