Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pemuda Solo Lulusan Universitas Australia, Pilih Jadi Bakul Bakmi Jawa

14 November 2019, 06: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Radifan Wisnu tak canggung turun memasak di dapur warungnya

Radifan Wisnu tak canggung turun memasak di dapur warungnya (ISWARA BAGUS. N/RADAR SOLO)

Share this      

Lulus dari perguruan tinggi luar negeri dengan jurusan marketing and management, tentu banyak impian karir yang ingin diraih. Namun, Radifan Wisnu Fadhilah, lulusan University of Wollongong Australia ini justru memilih profesi sebagai penjual alias bakul bakmi Jawa di Solo. Berikut kisahnya.

ISWARA BAGUS. N, Solo, Radar Solo

PEMUDA itu tampak sibuk menyiapkan beberapa bahan untuk membuat bakmi godog di warung bakmi Jawa miliknya di kawasan Badran, Purwosari, Laweyan, Solo. Sejurus kemudian, satu per satu bahan dimasukkan ke dalam wajan. Cara masaknya tampak sangat tradisional karena masih menggunakan anglo alias tungku arang. Sesekali dia menuangkan bumbu dan mengaduk olahan bakmi godog.

Dialah Radifan Wisnu Fadhilah. Dia memang sangat cekatan melayani pembeli dan mengolah makanan, yang otomatis juga harus berhadapan langsung dengan panasnya tungku arang. Siapa sangka jika pemuda yang akrab disapa Ifan itu merupakan lulusan universitas luar negeri. Yakni University of Wollongong Australia jurusan marketing and management.

"Saya memang dikenal nekat dan enggak malu. Lulusan kampus Australia kok pulang ke Indonesia banting setir jadi bakul bakmi," ujar Ifan membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Solo, Selasa (12/11) malam.

Ya, kuliah sekaligus tinggal lama di luar negeri tak membuat jiwa Indonesianya, terutama kejawaannya luntur. Pulang ke Solo, Ifan justru ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat di negeri manca untuk mengembangkan bisnis yang kental dengan unsur tradisional. Tak ada rasa malu, namun dia malah bangga ketika bisa mengangkat kekayaan tradisional Indonesia, terutama kuliner.

”Kami pengin membawa makanan lawas, kan di mana-mana bakmi Jawa kan mindset-nya kotor, pinggir jalan, kampungan, itu untuk dibawa ke level seperti yang disajikan di sini,” papar Ifan.

Ifan pun serius mengembangkan warung bakmi Jawa dan ayam goreng kampung sejak 2017. Tak hanya sembarangan, dalam mengolah bakmi Jawa, Ifan menggunakan resep yang sudah diwariskan turun temurun di keluarganya. 

Dengan meneruskan resep itu, Ifan berharap bisa terus melestarikan kuliner tradisional. Misalnya bakmi godog alias bakmi rebus, bakmi goreng, nasi goreng, bihun goreng dan godog, magelangan, ayam goreng, ayam ingkung, dan masih banyak lagi.

Bahkan, dia juga tetap mempertahankan cara masak tradisional menggunakan anglo atau tungku arang. Sebab, kata Ifan, dia ingin memperkenalkan kembali kepada masyarakat tentang tradisi dan teknik memasak zaman dahulu.

"Resep ini turun temurun dari buyut saya. Kemudian diturunkan nenek saya, terus ke orang tua dan baru kemudian ke saya generasi keempat," ungkap Ifan.

Yang istimewa dari resep warisan itu adalah semua makanan tanpa menggunakan penyedap rasa. Kemudian, bumbunya adalah aneka rempah-rempah yang sudah dipakai secara turun temurun.

Untuk menghadirkan nuansa tradisional yang lebih kental, Ifan pun sangat konsen dalam mengonsep bangunan warungnya. Yakni mengusung arsitektur gaya Jawa. Ada joglonya. Kursi, meja serta perabot juga bertema tradisional Jawa yang kental dengan unsur kayu. 

”Konsep bangunan tradisional ini sengaja dibuat dengan alasan untuk nguri-uri kebudayaan Jawa yang kian luntur dengan hadirnya kecanggihan teknologi,” papar Ifan yang kini mulai melebarkan sayap usahanya ke Jogja ini. (*/ria)

(rs/isw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia