Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pranoto, Dosen Pencipta Sedotan “Ajaib” Multifungsi

14 November 2019, 13: 47: 09 WIB | editor : Perdana

TAK TAKUT BAKTERI: Pranoto meminum air mentah dari sedotan ajaibnya.

TAK TAKUT BAKTERI: Pranoto meminum air mentah dari sedotan ajaibnya.

Share this      

Belakangan ini mencari air bersih sulit sekali. Kalau pun tampak kasat mata air tersebut bersih belum tentu kualitasnya juga sama baiknya. Padahal, air yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari selain kuantitas juga memperhatikan kualitas. Pranoto punya inovasi unik membersihkan air dengan lempung ajaib.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo

BAYANGKAN jika kita memiliki sebuah sedotan ajaib yang saat menyedot air apapun bisa menjadi air bersih layak minum. Tidak perlu lagi orang repot-repot membeli air mineral atau membawa botol minum kemana pun pergi. Cukup mencari sumber air terdekat dan sedot. Menyenangkan bukan? 

Tenang, kini hal itu tidak hanya dalam angan-angan saja. Pakar kimia lingkungan air Universitas Sebelas Maret (UNS) Pranoto telah menemukan alat tersebut. Bak doraemon, Pranoto membuat alat sedotan ajaib dan diklaim dapat digunakan untuk minum air di mana saja.

“Sedotan itu kalau ke mana-mana saya bawa. Mau minum di selokan, di sungai, atau di mana saja, sudah aman. Yang masuk ke mulut saya sudah tersaring dalam sedotan itu dan siap minum. Bahkan kalau airnya mengandung alkohol 100 persen saja kadarnya bisa menjadi nol persen. Andaikata saya diajak untuk lomba mabuk-mabukan, saya pasti menang,” kelakarnya.

Sedotan ajaib ini adalah alat keempat milik Pranoto dari seri Prans Water Filter (PWF). Sebelumnya, dia telah lebih dulu membuat tiga PWF dengan fungsi dan kegunaan yang berbeda. Meski tetap tujuannya membersihkan kualitas air. Lalu pertanyaannya, apa yang ada di dalam sedotan ajaib tersebut sehingga mampu mengubah air kotor menjadi air siap minum?

“Ada bahan yang sudah lama saya teliti, namanya lempung aktif atau saya lebih sering menyebutnya lempung ajaib,” ujarnya. 

Lempung ini punya kualitas tinggi. Berasal dari gunung vulkanik. Jadi gunung vulkanik itu mengandung tanah andisol yang mengandung tanah alovan. Lempung itu punya daya serap tinggi karena kandungan silikat dan alumina yang tinggi. Dua kandungan ini bisa menyerap dengan kuat. Dan memang ini saya kembangkan karena natural,” bebernya.

Lempung ajaib ini baru bekerja jika sudah diaktivasi. Caranya dengan dibakar seperti genteng atau bata. Lempung ajaib ini serupa gerabah. Wujudnya bisa seperti tabung, atau memanjang. Lempung ajaib kemudian dimasukkan ke dalam sebuah wadah air. Lalu lewatkan saja air melalui lempung ajaib tersebut. Dijamin air yang keluar sudah bersih dan siap minum. Sebab lempung tersebut mengandung alovan, kation, anion, dan karbon aktif yang berfungsi menjerap logam berat, B3, zat warna, dan pengawet. Pranoto menyebut dalam sebulan pemakaian lempung ajaib ini akan kotor penuh hasil saringan air.

“Tinggal dicuci saja pakai air panas. Kemudian dijemur. Tidak akan hancur. Karena ini persis seperti gerabah,” sambungnya.

Pranoto menjelaskan, dalam air keruh domestik paling berbahaya adalah kandungan deterjen yang banyak mengandung elektrolit. Sementara dalam air keruh industri, khususnya batik, paling berbahaya mengandung chrome dan kadmium. Air keruh tersebut bisa dijernihkan dengan lempung ajaib. Istimewanya, bahkan bakteri e coli dalam air pun dipastikan mati tiap melewati lempung ajaib ini.

“Karena secara kimia struktur alovan itu mengandung kadar pH 11. Tapi kalau kelewatan air bukan pH airnya yang menjadi 11. Tapi karena ini basa sekali jadi bakteri e coli nya mati. Artinya, sekaligus tidak usah menambahkan kaporit dalam air," imbuhnya.

Baru-baru ini, Pranoto mencampurkan lempung ajaibnya dengan ziolit dan abu merang yang dibakar ditambah dengan bakteri bioremidiasi. Bakteri tersebut berhasil memecah molekul chrome dan kadmium menjadi molekul yang tidak berbahaya.

"Lempung ini kan kalau sudah kotor kemudian dicuci. Nah hasil saringan chrome dan kadmium akan mengumpul dengan sendirinya. Itu jangan dibuang. Agar kandungannya tidak kembali ke alam. Solusinya, hasil seringan itu diberi semen kemudian dibuat batako. Jadi kandungan berbahayanya berhenti di situ. Atau dikumpulkan dan dikirim ke pengelolaan B3," ungkapnya.

Sebelumnya, Pranoto sudah membuat tiga alat serupa. PWF 1 adalah alat paling sederhana, hanya bisa untuk 20 liter air sehari. Kemudian PWF 2 diaplikasikan kepada masyarakat bisa membuat sendiri entah dari pipa atau bumbung yang harganya hanya berkisar Rp 150-200 ribu saja. Khusus PWF 2, sudah diujicoba di Papua, Sorong, Pandeglang, Natuna, dan Mojosongo Surakarta. Kemudian PWF 3 juga diaplikasikan kepada masyarakat namun sudah menyentuh segi bisnis yakni digunakan oleh rumah sakit. Rumah sakit di Wonogiri sudah memasang PWF 3 sejak dua sampai tiga tahun lalu. Biayanya hanya Rp 1,5 juta saja.

"Semua alat ini sudah berkembang banyak, sudah masuk ke jurnal ilmiah," pungkasnya. (aya)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia