Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Sragen Kekurangan Terapis Anak Berkebutuhan Khusus

14 November 2019, 14: 23: 40 WIB | editor : Perdana

BUTUH PERHATIAN: Anak berkebutuhan khusus tampilkan musik angklung saat Festival Budaya di Objek Wisata Bayanan, beberapa waktu lalu. Sragen butuh lebih banyak terapis anak berkebutuhan khusus.

BUTUH PERHATIAN: Anak berkebutuhan khusus tampilkan musik angklung saat Festival Budaya di Objek Wisata Bayanan, beberapa waktu lalu. Sragen butuh lebih banyak terapis anak berkebutuhan khusus. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Tenaga penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Sragen masih minim. Saat ini hanya ada 12 terapis yang harus menangani puluhan pasien. Pemerintah berharap ada sukarelawan dari masyarakat dan mahasiswa untuk membantu dalam penanganan ABK.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Djoko Nugroho Witjaksono menyampaikan, 12 terapis tersebut bertugas di Pusat Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (PLABK). Sragen salah satu dari dua kota yang memiliki PLABK di Jawa Tengah. Pusat layanan ini memberi layanan gratis pada ABK.

”Sragen punya 12 terapis dengan berbagai disiplin ilmu terapi. Tetapi rasio petugas terapi 1 banding 15 klien. Sedangkan di Jawa Tengah hanya ada dua di Sragen dan Semarang,” terang dia.

Dia menjelaskan, idealnya satu terapi membutuhkan satu jam, termasuk konsultasi dengan orang tua. Artinya jika sesuai jam kerja normalnya delapan anak sehari. Itu belum termasuk penanganan anak autis yang lebih sulit karena satu anak didampingi satu terapis.

Terapis ABK di Sragen memiliki kompetensi beragam. Seperti terapi wicara, fisioterapi dan hidroterapi dan sebagainya. Namun jumlah yang harus dirawat sangat banyak.

Djoko menyampaikan PLABK memberikan layanan rekomendasi terkait kondisi ABK. Jika memungkinkan ABK bisa direkomendasi masuk ke sekolah umum yang inklusi. Jika tidak tetap dalam lingkup sekolah luar biasa (SLB). 

Koordinator PLABK Sragen Boeng Indarwa mengaku kewalahan. Dalam sehari setidaknya ada 70 klien yang ditangani. Sementara daftar tunggu bisa mencapai 60 klien.

”Jika masih menunggu kami rekomendasikan ke klinik yang bisa membantu,” terang dia.

Soal kendala masih terpacu masyarakat yang belum sadar penanganan ABK. ”ABK memang harus dibantu. Kalau masyarakat tidak open, kami juga kesulitan,” ungkap dia. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia