Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemkab Klaten Anggarkan Rp 2 M untuk Klaster Lurik dan Batik

14 November 2019, 15: 08: 31 WIB | editor : Perdana

DIPIHAKI: Seorang warga menenun kain lurik dengan peralatan tenun tradisional di Kecamatan Bayat, belum lama ini. UMKM lurik dan batik dapat kemudahan permodalan.

DIPIHAKI: Seorang warga menenun kain lurik dengan peralatan tenun tradisional di Kecamatan Bayat, belum lama ini. UMKM lurik dan batik dapat kemudahan permodalan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pemkab Klaten melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) membuka program subsidi bunga. Pada tahap pertama, dianggarkan Rp 2 miliar untuk para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lurik dan batik. Dikucurkan melalui PT BPR Bank Klaten dan PD BPR BKK Tulung.

Bantuan permodalan ini tak lepas dari rencana penerapan seragam batik dan selendang lurik bagi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemkab. Memenuhi kebutuhan tersebut, klaster UMKM batik dan lurik butuh modal tak sedikit. Nah, mereka bisa memanfaatkan program subsidi bunga saat melakukan pinjaman modal.

“Kebetulan di Klaten ada 11 klaster. Tetapi klaster batik dan lurik jadi prioritas. Sudah ada kajian, usaha batik dan lurik bisa berkembang dengan kemitraan usaha. Mereka yang masuk usaha mikro bisa berkembang menjadi kecil dan menengah,” terang Kepala Bidang (Kabid) Penanaman Modal DPMTSP Klaten Purwanto Agus Raharjo, Rabu (13/11).

Selain itu, DPMPTSP juga mempertemukan UMKM dengan para mitra. Menghadirkan narasumber berkompeten di bidangnya. Terutama terkait permodalan dan pemasaran. Di antaranya perwakilan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Bagian Perekonomian Setda Klaten, hingga salah satu online marketplace ternama.

UMKM batik dan lurik tidak sekadar menerima paparan dari narasumber semata. Mereka juga berinteraksi terkait kendala yang dihadapi. Termasuk strategi meningkatkan penjualan.

 “Belum lagi kaitannya dengan pemasaran yang kini sudah online. Maka kami hadirkan salah satu online marketplace ini. Agar UMKM tahu bagaimana pemasaran dan penjualan sesuai perkembangan zaman,” bebernya.

Dyah Evi Kurniasari, perajin batik asal Kecamatan Bayat yang hadir dalam acara mengaku sudah mendapat pesanan seragam dari dua kecamatan. Pesanan datang setelah batik motif Sindu Melati diluncurkan, medio Oktober lalu. “Memang sudah ada pesanan untuk batik Sindu Melati ke saya. Tetapi ini masih menunggu mekanisme penerapannya,” ujarnya. (ren/fer

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia